Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah terus memperkuat sektor pendidikan nasional melalui berbagai program prioritas yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu fokus utama adalah penguatan karakter peserta didik dan transformasi pembelajaran berbasis teknologi yang menjadi bagian dari arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, usai bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta.
Menurut Abdul Mu'ti, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter melalui program 7 Kebiasaan Indonesia Hebat. Program tersebut meliputi kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal.
"MBG ini merupakan bagian dari program kami, yaitu 7 Kebiasaan Indonesia Hebat. Bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat dan tidur cepat," ujar Abdul Mu'ti.
Untuk mendukung implementasi program tersebut, Kemendikdasmen telah menyiapkan berbagai modul yang mengintegrasikan pelaksanaan MBG dengan penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Lebih lanjut, Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa sejumlah penelitian, termasuk yang dilakukan oleh Universitas Indonesia, menunjukkan dampak positif MBG terhadap peningkatan motivasi belajar, tingkat kehadiran siswa, hingga prestasi akademik.
Hingga 10 Juni, program MBG telah menjangkau sekitar 80,7 persen peserta didik di Indonesia. Dari total sekitar 53 juta siswa, lebih dari 43 juta di antaranya telah menerima manfaat program tersebut.
"Mereka menyatakan MBG terus dilanjutkan karena dampaknya sangat positif, baik dalam hubungannya dengan tingkat kehadiran di sekolah, maupun motivasi belajar dan prestasi akademik," katanya.
Selain program MBG, pemerintah juga melaporkan perkembangan pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai bagian dari transformasi pembelajaran digital. Pada 2025, pemerintah telah mendistribusikan sebanyak 288.865 unit IFP ke berbagai satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Abdul Mu'ti menjelaskan, perangkat tersebut kini telah dimanfaatkan secara luas dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan IFP terbukti memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus mendorong semangat belajar siswa.
"Sekarang sudah digunakan dan sudah ada penelitian yang menunjukkan dampak IFP terhadap kualitas pembelajaran dan juga terhadap motivasi belajar," ujarnya.
Pemerintah menegaskan bahwa berbagai program prioritas di bidang pendidikan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Melalui penguatan karakter, pemenuhan gizi, dan pemanfaatan teknologi, pemerintah berharap dapat mencetak generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global. (DKI1)