Garut (buseronline.com) – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengajak para guru untuk menjadi "arsitek pembelajaran" yang mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan penguatan kompetensi guru bertema Deep Learning dan Transformasi Pendidikan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu.
Dilansir dari laman Kemendikdasmen, dalam kegiatan tersebut, Fajar menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru merupakan salah satu faktor utama dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi daerah.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, rata-rata lama sekolah di Kabupaten Garut masih berada di bawah rata-rata nasional, sementara angka putus sekolah masih menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, konsep Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang menekankan proses memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan.
Dengan pendekatan ini, peserta didik diharapkan tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mengolah dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
"Deep Learning adalah metode mengajar. Bagaimana murid memahami, melaksanakan, lalu merefleksikan apa yang dipelajarinya. Jadi bukan sekadar mengejar banyaknya materi yang selesai diajarkan, tetapi memastikan anak benar-benar memahami apa yang dipelajari," ujar Fajar.
Ia menjelaskan bahwa pembelajaran yang berkualitas tidak hanya berorientasi pada ketuntasan materi, melainkan memastikan pengetahuan yang diperoleh peserta didik dapat dipahami secara utuh, tersimpan dalam ingatan, dan diterapkan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, proses refleksi menjadi bagian penting dalam pembelajaran.
Fajar juga menekankan pentingnya mengubah pola pembelajaran yang bersifat satu arah menjadi pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik. Murid harus diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, bereksplorasi, serta membangun pemahaman secara mandiri.
"Pesan saya kepada Bapak-Ibu Guru dan Kepala Sekolah, jadilah arsitek pembelajaran, bukan operator pembelajaran. Operator hanya mengulang proses yang sama, sementara arsitek memiliki kreativitas dan inovasi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak-anak," tegasnya.
Selain itu, Wamendikdasmen mendorong para guru untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang kontekstual. Potensi sejarah, budaya, dan kekayaan daerah dapat dijadikan media pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagaimana konsep Tri Pusat Pendidikan yang diperkenalkan Ki Hadjar Dewantara.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua menjadi faktor penting dalam menyamakan visi pendidikan. Keselarasan antara lingkungan rumah dan sekolah akan membantu peserta didik berkembang dalam ekosistem belajar yang mendukung pembentukan karakter dan peningkatan kemampuan akademik.
Melalui penguatan kompetensi guru dan penerapan Pembelajaran Mendalam secara konsisten, pemerintah berharap satuan pendidikan di Kabupaten Garut mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih bermakna, memperkuat literasi dan numerasi peserta didik, serta melahirkan generasi yang berkarakter, berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (R)