Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mengawal pemulihan layanan pendidikan bagi satuan pendidikan yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Dilansir dari laman
Kemendikdasmen, salah satu langkah yang ditempuh adalah menyiapkan
relokasi serta dukungan anggaran pembangunan sekolah baru bagi SD Negeri 10 Linge yang mengalami kerusakan berat akibat bencana tersebut.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto menegaskan bahwa keselamatan peserta didik, guru, dan seluruh warga sekolah menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan pascabencana.
"Pemulihan layanan pendidikan di SD Negeri 10 Linge tidak hanya bertujuan agar anak-anak dapat segera kembali belajar, tetapi juga memastikan mereka belajar di lingkungan yang aman, layak, dan lebih tangguh terhadap risiko bencana," ujar Gogot di Jakarta, Kamis.
Kerusakan berat yang dialami SD Negeri 10 Linge membuat bangunan sekolah tidak lagi layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan hasil kajian bersama, lokasi sekolah lama ditetapkan sebagai zona merah sehingga pembangunan kembali di lokasi yang sama tidak dapat dilakukan karena berisiko terhadap keselamatan warga sekolah.
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh Muhammad Syafran menjelaskan bahwa relokasi merupakan langkah strategis untuk menjamin keberlangsungan pendidikan yang aman bagi peserta didik dan tenaga pendidik.
Sebagai solusi sementara, pemerintah mulai membangun tiga Ruang Kelas Darurat (RKD) pada 6 Juni 2026. Lokasi RKD berada sekitar 500 meter dari sekolah asal dan berdekatan dengan area yang direncanakan sebagai lokasi
relokasi permanen.
Pembangunan ruang kelas darurat tersebut diperkirakan selesai dalam waktu tiga hingga empat minggu sehingga dapat digunakan pada tahun ajaran baru mendatang.
Untuk mendukung proses pembelajaran selama masa tanggap darurat,
Kemendikdasmen telah menyalurkan berbagai bantuan sejak Februari 2026.
Bantuan tersebut meliputi tiga unit tenda kelas darurat, 93 paket perlengkapan sekolah berupa tas, buku, dan alat tulis, 511 eksemplar buku teks, 100 eksemplar buku bacaan, serta 96 pasang sepatu bagi peserta didik terdampak.
Selain bantuan sarana pendidikan, sekolah juga menerima Dana Operasional Pendidikan Darurat sebesar Rp55 juta. Dana tersebut digunakan untuk pembersihan lokasi pembelajaran sementara, penyediaan mebel, perangkat teknologi informasi dan komunikasi, serta media pembelajaran darurat.
Sementara itu, Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) Kemendikdasmen, Jamjam Muzaki, menyampaikan bahwa pemerintah daerah tengah menyiapkan lahan pengganti yang aman dari risiko bencana serta memiliki status hukum yang jelas dan bebas sengketa. Hal ini menjadi syarat penting agar pembangunan sekolah baru dapat segera direalisasikan.
Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah mencatat sedikitnya 17 satuan pendidikan perlu di
relokasi karena terdampak bencana dan berada di zona merah. Sejumlah sekolah telah masuk dalam skema pendanaan revitalisasi tahap pertama melalui dukungan lintas kementerian maupun mekanisme swakelola.
Hingga saat ini, proses pemulihan pascabencana di Aceh Tengah masih berlangsung seiring dengan relokasi warga terdampak. Pemerintah terus melakukan penataan layanan pendidikan dengan mempertimbangkan lokasi permukiman baru masyarakat serta kebutuhan akses pendidikan bagi peserta didik.
Melalui langkah tersebut, diharapkan seluruh anak tetap memperoleh layanan pendidikan yang aman, layak, dan berkelanjutan meskipun berada dalam situasi pasca bencana. (R)