Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi meluncurkan Program Insersi Pendidikan Perkoperasian yang akan diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI hingga SMA/SMK/MA dan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Dilansir dari laman Jatengprov, program ini menyasar sekitar 6,38 juta peserta didik sebagai upaya menanamkan nilai-nilai koperasi sejak dini.
Peluncuran program berlangsung di Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Jumat, dan dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, serta Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI Toni Toharudin.
Gubernur
Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pendidikan koperasi menjadi langkah strategis untuk mengenalkan kembali koperasi kepada generasi muda sebagai bagian dari amanat konstitusi dan fondasi ekonomi nasional.
"Koperasi merupakan amanah Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33. Program ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah terkait Koperasi Merah Putih," ujar Luthfi.
Ia menegaskan, program tersebut tidak akan menambah beban belajar siswa karena materi perkoperasian akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menyiapkan modul pembelajaran serta memberikan pembekalan kepada kepala sekolah, pengawas, dan guru untuk mendukung implementasinya.
Menurut Luthfi,
Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang menginisiasi penyusunan materi dan modul pendidikan koperasi yang diterapkan secara terstruktur di sekolah-sekolah.
Melalui program ini, materi koperasi akan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Pada tingkat SD/MI, siswa diperkenalkan dengan nilai dasar koperasi dan gotong royong. Di tingkat SMP/MTs, peserta didik mulai memahami organisasi, pengelolaan, dan manfaat koperasi.
Sementara pada jenjang SMA/SMK/MA, pembelajaran difokuskan pada praktik koperasi dan kewirausahaan. Adapun untuk SLB, implementasi disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.
Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dinilainya telah menciptakan sejarah baru dalam pengembangan pendidikan koperasi di Indonesia.
"
Jawa Tengah telah melahirkan sejarah sebagai daerah pertama yang mengembangkan insersi kurikulum perkoperasian," kata Ferry.
Ia menilai pendidikan koperasi penting untuk mengembalikan pemahaman generasi muda terhadap ekonomi Pancasila sekaligus memperkenalkan koperasi sebagai alternatif dalam menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda.
"Koperasi tidak boleh hanya dipahami sebagai simpan pinjam. Koperasi harus kembali dikenalkan sebagai badan usaha yang sesuai dengan karakter bangsa, yakni gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyebut pendidikan perkoperasian tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik.
Menurutnya, nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, kepemimpinan, kemandirian, dan semangat kebersamaan dapat ditanamkan melalui pendidikan koperasi.
"Pendekatan ini memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih otentik tanpa harus menambah beban kurikulum atau menciptakan mata pelajaran baru," ujarnya.
Dukungan juga disampaikan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar. Ia menilai pendidikan koperasi sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yang mengedepankan semangat tolong-menolong, kepedulian sosial, dan kemandirian umat.
"Kementerian Agama bersama seluruh lembaga pendidikannya siap mendukung gagasan cerdas yang dimunculkan oleh Gubernur Jawa Tengah," kata Nasaruddin.
Ia menambahkan, koperasi juga dapat dikembangkan melalui berbagai lembaga keagamaan, seperti masjid, pondok pesantren, organisasi kemasyarakatan keagamaan, dan rumah ibadah lainnya untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Program Insersi Pendidikan Perkoperasian diharapkan menjadi investasi jangka panjang dalam membangun generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa gotong royong, kemampuan berwirausaha, dan orientasi pada kesejahteraan bersama. (R)