Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar mampu bersaing di dunia kerja internasional.
Dilansir dari laman
Kemendikdasmen, tingginya kebutuhan tenaga kerja terampil di sejumlah negara maju dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia yang tengah memasuki masa bonus demografi.
Hal tersebut disampaikan dalam webinar bertajuk "SMK Berani Mendunia: Sekolah di Indonesia Berkarier di Dunia" yang digelar, Jumat.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus)
Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin mengatakan bahwa pendidikan vokasi kini tidak lagi hanya menyiapkan lulusan untuk bekerja di kawasan industri dalam negeri, tetapi juga di pasar kerja global.
Menurutnya, banyak negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan negara-negara Timur Tengah saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja produktif. Sementara Indonesia memiliki jumlah usia produktif yang melimpah.
"Jangan minder jadi anak
SMK karena dunia hari ini tidak hanya mencari orang pintar, tetapi juga orang terampil, disiplin, dan mau belajar. Masa depan bukan milik mereka yang paling banyak teori, tapi milik mereka yang siap beradaptasi dan berani melangkah keluar batas," ujar Tatang.
Ia menyebutkan, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Kemendikdasmen telah memberangkatkan lebih dari tiga ribu lulusan SMK untuk bekerja di berbagai negara. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa kualitas lulusan pendidikan vokasi Indonesia mulai dipercaya dunia internasional.
Tatang juga mengajak seluruh pihak untuk membangun ekosistem pendukung yang mampu membuka akses informasi, memperkuat kompetensi, dan menyiapkan mental lulusan
SMK agar mampu bersaing secara global.
Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan, menjelaskan bahwa Kemendikdasmen telah menghadirkan Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 melalui Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 64 Tahun 2026.
Program tersebut memberikan tambahan satu tahun pembelajaran bagi siswa
SMK untuk memperkuat kemampuan bahasa asing, kompetensi sesuai standar negara tujuan, kesiapan fisik dan mental, hingga literasi hukum dan keuangan.
"Peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK sangat besar, tetapi harus dijawab dengan kesiapan bahasa, kompetensi, sertifikasi, dan perlindungan," kata Arie.
Menurutnya, transformasi
SMK mendunia dilakukan melalui penguatan tata kelola sekolah, kurikulum, kemitraan industri, dan layanan kesiswaan yang terintegrasi.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari sekolah penerima manfaat. Kepala SMKN 1 Mundu, Cirebon, Sri Handayani, mengaku program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 membantu siswa mempersiapkan diri untuk berkarier di luar negeri.
Sekolahnya turut melibatkan alumni yang telah bekerja di luar negeri untuk berbagi pengalaman kepada siswa. Selain itu, pihak sekolah juga menghadirkan guru tamu dari industri guna memperkenalkan budaya kerja internasional.
"Kami tidak hanya menyiapkan siswa sebelum berangkat, tetapi juga memastikan keamanan mereka saat bekerja di negara tujuan," ujar Sri.
Sementara itu, sejumlah alumni
SMK yang telah bekerja di luar negeri mengaku pendidikan berbasis praktik, penguatan bahasa asing, serta budaya kerja yang diperoleh selama sekolah menjadi modal penting dalam beradaptasi di dunia kerja internasional.
"Dunia itu luas dan kita masih bisa mencapai titik-titik tersebut. Selain pengalaman, penghasilan yang didapatkan juga bisa memperbaiki kualitas hidup," ujar Hafifa Indah, alumni SMK Muhammadiyah 1 Malang yang kini bekerja di Jepang. (R)