Tegalsambi (buseronline.com) - Tradisi Perang Obor kembali digelar masyarakat Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Senin malam.
Dilansir dari laman Jatengprov, ritual budaya yang telah berlangsung turun-temurun sejak abad ke-16 itu dipadati ribuan warga dan wisatawan yang datang untuk menyaksikan kemeriahan tradisi khas
Jepara tersebut.
Suasana malam di Tegalsambi tampak semarak saat bunga-bunga api beterbangan ke udara dari obor yang saling dipukulkan para peserta ritual.
Tradisi ini merupakan bagian dari sedekah bumi sekaligus ritual tolak bala yang rutin dilaksanakan setiap Senin Pahing malam Selasa Pon setelah masa panen.
Sejumlah pejabat turut hadir menyaksikan tradisi tersebut, di antaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin, serta Bupati Jepara Witiarso Utomo.
Dalam sambutannya, Taj Yasin mengatakan, Perang Obor bukan hanya sekadar atraksi budaya, tetapi juga memiliki nilai moral dan spiritual bagi masyarakat.
"Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu diingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar dijalankan," ujarnya.
Menurutnya, ritual tersebut menjadi bentuk doa masyarakat agar dijauhkan dari musibah dan diberi keselamatan. Tradisi Perang Obor berkaitan dengan legenda Ki Gemblong dan Kyai Babadan.
Dalam cerita rakyat setempat, Ki Gemblong yang bertugas menggembala ternak terlena mencari ikan hingga ternak milik Kyai Babadan jatuh sakit.
Kyai Babadan kemudian memukul Ki Gemblong menggunakan
obor. Namun, api
obor dipercaya justru menyembuhkan ternak yang sakit. Sejak saat itu, api
obor diyakini menjadi simbol penolak bala dan keselamatan desa.
Selain menjadi tradisi budaya, Perang Obor juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi masyarakat setempat. Banyak pengunjung dari luar daerah datang untuk menikmati suasana ritual tahunan tersebut.