TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Perbatasan Malinau

Heri - Senin, 25 Mei 2026 13:02 WIB
Suara tawa dan cerita anak-anak kini semakin ramai terdengar dari sebuah ruang sederhana di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Malinau (buseronline.com) - Suara tawa dan cerita anak-anak kini semakin ramai terdengar dari sebuah ruang sederhana di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, di tengah keterbatasan akses buku dan fasilitas belajar, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lasan Baca hadir menjadi ruang belajar sekaligus tempat tumbuhnya harapan bagi anak-anak di wilayah perbatasan tersebut.

Melalui pendekatan belajar sambil bermain dan bercerita, TBM Lasan Baca perlahan mampu meningkatkan minat baca anak-anak desa.

Kegiatan ini digerakkan oleh para relawan yang tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca, tetapi juga menanamkan rasa percaya diri dan semangat meraih masa depan yang lebih baik.

Kisah inspiratif tersebut disampaikan dalam gelar wicara bertajuk "Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara" yang berlangsung di Jakarta, Kamis.

Pegiat literasi sekaligus guru SMPN 3 Malinau Selatan Hilir, Zsazsa Suharningtyas mengatakan TBM Lasan Baca didirikan pada 2024 karena masih ditemukannya anak-anak sekolah dasar hingga siswa SMP yang belum mampu membaca dengan lancar.

"Kami menemukan masih ada murid kelas tiga SD bahkan SMP yang belum bisa membaca. Itu yang menjadi motivasi kami bergerak," ujarnya.

Menurut Zsazsa, keterbatasan fasilitas dan minimnya akses buku tidak menyurutkan semangat para relawan untuk terus mendampingi anak-anak belajar.

Mereka menghadirkan metode belajar yang menyenangkan agar anak-anak merasa nyaman dan tertarik membaca. "Kami mengubah konsep belajar menjadi belajar sambil bermain dan bercerita agar anak-anak merasa senang," katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa bantuan buku bacaan bermutu dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sangat membantu proses pendampingan literasi di desa.

Buku-buku tersebut dinilai dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak sehingga lebih mudah dipahami dan diminati. "Cerita-ceritanya dekat dengan kehidupan lokal dan sangat disukai anak-anak," tuturnya.

Perubahan positif pun mulai terlihat. Salah satu anak binaan TBM yang sebelumnya selalu berada di peringkat terbawah di kelas karena belum lancar membaca, kini berhasil masuk 10 besar terbaik di sekolah setelah kemampuan literasi dan numerasinya meningkat pesat. "Puji Tuhan, sekarang anak tersebut bisa masuk dalam peringkat 10 besar terbaik," ujar Zsazsa penuh haru.

Saat ini, TBM Lasan Baca memiliki 65 anak aktif yang didampingi oleh 12 relawan. Meski berada di daerah terpencil dengan berbagai keterbatasan, mereka tetap berkomitmen menghadirkan perubahan bagi anak-anak desa melalui pendidikan dan literasi.


Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait