Jepara (buseronline.com) - Pemerintah Kabupaten Jepara menyiapkan sebanyak 160 kader PKK desa dan kelurahan sebagai garda terdepan dalam deteksi dini tuberkulosis (TBC) di lingkungan masyarakat.
Dilansir dari laman Jatengprov, para kader dibekali kemampuan mengenali gejala TBC hingga mendampingi pasien agar tetap menjalani pengobatan sampai tuntas.
Pembekalan tersebut diberikan dalam sosialisasi pencegahan dan penanggulangan TBC yang digelar di Pendopo Kartini Jepara, Kamis.
Ketua I Tim Penggerak
PKK Kabupaten Jepara,
Syahnez Danniar Yusuf, mengatakan TBC masih menjadi perhatian serius dalam upaya kesehatan masyarakat. Menurutnya, kader
PKK memiliki peran penting dalam membantu mencegah penularan penyakit di lingkungan warga.
"TBC bisa disembuhkan jika pasien disiplin menjalani pengobatan sampai tuntas," ujar Syahnez yang akrab disapa Inez Hajar.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada penderita TBC. Keterbukaan dan deteksi dini dinilai menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan.
"TBC bukan hanya soal medis, tetapi juga kemanusiaan. Jangan ada lagi stigma atau rasa malu terhadap penderita," katanya.
Sementara itu, narasumber dari Dinas Kesehatan Jepara, Agus Carda, menyampaikan pemerintah menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan pasien.
Menurut Agus, Pemkab Jepara terus memperkuat pengendalian TBC melalui evaluasi rutin dan pemantauan indikator program hingga tingkat desa agar penanganan berjalan optimal.
Selain penguatan layanan kesehatan, edukasi kepada masyarakat dan pendampingan pasien juga terus dilakukan agar pengobatan tidak terputus. "Kasus TBC harus ditemukan lebih dini, agar segera diobati dan tidak menular," ujarnya.
Perwakilan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis dr Tri Adi Kurniawan menjelaskan TBC merupakan penyakit infeksi yang menular melalui percikan dahak saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara.
Ia menegaskan, kader memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan pendampingan pasien di masyarakat.
Kader juga diharapkan aktif mengingatkan pasien agar tidak menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh. "Pasien yang putus berobat berisiko mengalami kekebalan obat, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit," tuturnya. (R)