Klaten (buseronline.com) - Pemerintah dan tenaga kesehatan mengingatkan masyarakat bahwa status Indonesia sebagai negara bebas polio bukan berarti ancaman penyakit tersebut telah hilang sepenuhnya.
Dilansir dari laman Jatengprov, upaya pencegahan melalui imunisasi tetap menjadi langkah penting agar kasus polio tidak kembali muncul di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam pemutaran film dokumenter "Langkah Akhir, Sisa Bayang Polio di Indonesia" di Pendopo Kabupaten Klaten, Rabu.
Film produksi proyek Synthesis and Translation of Research and Innovation in Polio Eradication (STRIPE) di bawah
Pusat Kedokteran Tropis UGM itu mengangkat kisah perjuangan dua penyintas polio dengan latar belakang berbeda.
Salah satu tokoh dalam film tersebut adalah Najwa, bocah enam tahun asal Klaten yang didiagnosis polio saat berusia tiga tahun.
Selain menghadapi pengobatan, keluarga Najwa juga harus menghadapi stigma masyarakat yang menganggap mereka sebagai pembawa penyakit. Bahkan, ayah Najwa sempat merasa malu dan ingin kembali ke Madura.
Kisah lainnya datang dari Sutiayah atau Mbah Ayah, penyintas polio asal Gunung Kidul. Meski sempat dijauhi lingkungan sekitar, Mbah Ayah berhasil membuktikan diri menjadi atlet difabel berprestasi dan inspiratif.
Principal Investigator STRIPE, Yodi Mahendradhata mengatakan film tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ancaman polio yang masih perlu diwaspadai.
"Polio, meskipun Indonesia dinyatakan bebas polio, masih menjadi ancaman. Dan kita harus waspada karena apabila itu terjadi, dampaknya bisa seumur hidup," ujarnya.