Tangerang Selatan (Buser online.com) - Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Oktovianus mengapresiasi konsistensi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hasil kolaborasi Grab Indonesia dan Ovo.
Dilansir dari laman Kemkes, apresiasi tersebut disampaikan saat meninjau langsung pelaksanaan program di Sekolah Khusus (SKh) Negeri 01 Tangerang Selatan, Senin.
Dalam kunjungan tersebut, Wamenkes yang akrab disapa Benny menilai kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa sangat baik, baik dari segi gizi maupun kebersihan.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Tegaskan Bayi Baru Lahir Wajib Didaftarkan dalam 28 Hari, Bantah Kabar Otomatis Jadi Peserta JKN
Ia menekankan bahwa selama satu tahun pelaksanaan, program ini tidak pernah mencatat adanya laporan gangguan kesehatan maupun kasus keracunan makanan.
"Kami melihat kualitas makanan yang disajikan sangat luar biasa; anak-anak menikmati dengan lahap dan kebersihannya sangat terjaga. Hal paling membanggakan adalah konsistensi program ini," ujar Benny.
Program MBG sendiri dirancang untuk memperkuat aspek keamanan pangan melalui sistem pengawasan menyeluruh, mulai dari mitra UMKM penyedia makanan, sekolah penerima manfaat, hingga pusat kendali distribusi di Grab Support Office Poins Square.
Pemantauan dilakukan melalui Command Center berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengawasan secara real-time. Di SKh Negeri 01 Tangerang Selatan, program ini menyasar 187 siswa berkebutuhan khusus dengan pendekatan penyajian adaptif.
Makanan disesuaikan dari segi tekstur serta mempertimbangkan pembatasan bahan tertentu seperti gluten dan MSG, guna memenuhi kebutuhan kesehatan masing-masing siswa.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan bertindak sebagai leading sector dalam menetapkan standar gizi dan keamanan pangan program MBG. Standar menu disusun mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang dan Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Selain itu, pengawasan dilakukan melalui inspeksi kesehatan lingkungan secara berjenjang di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Upaya peningkatan kualitas juga dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Sepanjang Maret 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 213.344 penjamah pangan telah mengikuti kursus keamanan pangan secara daring.
Selain itu, pada Februari 2026, sebanyak 212 peserta lulus sebagai fasilitator penjamah pangan, serta 6.219 kepala dan ahli gizi SPPG menyelesaikan pelatihan serupa.
CEO Neneng Goenadi menegaskan komitmen pihaknya dalam menjaga kualitas makanan yang disalurkan. Menurutnya, dukungan teknologi menjadi kunci dalam memastikan konsistensi standar.