Surakarta (buseronline.com) - Konsorsium Perguruan Tinggi Wilayah IV, yang mencakup Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, meluncurkan 33 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Program Pendidikan Dokter Subspesialis (PPDSS) baru. Program ini bertujuan memenuhi kebutuhan dokter spesialis dan subspesialis di Indonesia.Peluncuran dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kamis, dan melibatkan lima kampus penyelenggara: Universitas Gadjah Mada, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, serta UNS sendiri.Program studi yang diluncurkan mencakup berbagai bidang kedokteran penting, antara lain:Jantung dan pembuluh darahBedahIlmu kesehatan anakObstetri dan ginekologiAnestesiologiPatologiRehabilitasi medikKedokteran keluarga layanan primerGubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan dukungan penuh terhadap program ini. Ia menekankan percepatan pelaksanaan agar kebutuhan dokter spesialis di Jawa Tengah dan Indonesia dapat terpenuhi lebih cepat, terutama dalam mendukung program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan dokter spesialis keliling (Speling).“Saya sebagai Gubernur sangat mendukung kegiatan ini. Kiranya ini harus segera ditindaklanjuti. Makin cepat, makin bagus, karena saya perlu itu,” kata Ahmad Luthfi saat peluncuran.Gubernur juga mengungkapkan bahwa pengalaman langsungnya dalam program Speling di desa-desa menunjukkan kebutuhan dokter spesialis yang mendesak. Ia bahkan berinisiatif memberikan pelatihan singkat bagi dokter umum di puskesmas agar dapat mendukung layanan kesehatan di daerah terpencil.Selain itu, ia menginstruksikan seluruh rumah sakit di Jawa Tengah menjalin konektivitas dengan perguruan tinggi untuk mempercepat produksi dokter spesialis yang mendukung program CKG dan Speling.“Ini merupakan langkah strategis. Rekan-rekan (dokter) yang masuk program spesialis, kalau bisa cepat lulus, nanti ikut ke wilayah kita,” tambahnya.Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menambahkan, program PPDS dan PPDSS dapat ditempuh melalui dua jalur: University Based (berbasis universitas) dan Hospital Based (berbasis rumah sakit). Langkah ini diambil agar produksi dokter spesialis dapat meningkat lebih cepat.“Mari bersinergi antara rumah sakit dan perguruan tinggi untuk memproduksi dokter spesialis dan subspesialis, agar akses layanan kesehatan semakin mudah bagi masyarakat Jawa Tengah,” ujarnya.Tri Hanggono Achmad, Tenaga Ahli Mendiktisaintek sekaligus Ketua Tim Kajian Kebijakan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, menegaskan bahwa pembukaan program studi baru bukan sekadar penambahan kuota akademik.“Ini adalah misi kemanusiaan. Pemerintah menargetkan percepatan produksi dokter spesialis dan subspesialis untuk menutupi rasio dokter yang belum ideal, terutama di luar Pulau Jawa dan daerah 4T,” kata Tri Hanggono.Ia menambahkan, kolaborasi antaruniversitas di Jawa Tengah dan DIY menjadi bukti nyata sinergi akademisi dalam menjamin kesehatan bangsa. Selain di UNS, peluncuran program studi dokter spesialis dan subspesialis juga dilakukan di beberapa daerah pada hari yang sama.Melalui langkah ini, pemerintah berharap percepatan produksi dokter spesialis dan subspesialis dapat mendukung pemenuhan layanan kesehatan berkualitas di seluruh wilayah, sekaligus memperkuat program-program kesehatan masyarakat seperti CKG dan Speling. (R)