Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik menyikapi informasi terkait merebaknya penyakit yang disebut sebagai “superflu”.
Hingga saat ini, dipastikan belum ditemukan kasus superflu di wilayah Jawa Tengah, dan penyakit tersebut dapat dicegah serta diobati dengan langkah kesehatan yang tepat.
Hal itu disampaikan dalam program bincang radio Jateng Bicara yang menghadirkan dokter spesialis paru RS Amino, Prihatin Iman Nugroho, pada Rabu.
Dalam kesempatan tersebut, dilansir dari laman Diskominfo Jateng, Nugroho menjelaskan bahwa superflu sejatinya merupakan virus influenza yang sudah lama dikenal, namun mengalami mutasi sehingga memunculkan subklausa baru, yakni Influenza A H3N2 Subclaude K.
“Penyakit ini pada dasarnya adalah influenza yang mengalami mutasi. Gejalanya hampir sama dengan flu biasa, seperti demam, nyeri otot, pilek, hingga rasa ngilu pada anggota badan,” jelas Nugroho.
Ia menambahkan, pada pasien yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, gejala superflu dapat muncul lebih berat dibandingkan pada orang dengan kondisi kesehatan yang baik. Selain itu, tingkat penularan virus ini tergolong cukup cepat, terutama ketika daya tahan tubuh seseorang sedang menurun.
Seperti influenza pada umumnya, penularan superflu terjadi melalui udara atau airborne, yakni melalui percikan lendir saat penderita batuk atau bersin.
“Infeksi virus ini memang mudah menular. Namun sampai hari ini, belum ada data atau laporan yang menunjukkan adanya kasus superflu di Jawa Tengah,” tegasnya.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Langkah-langkah tersebut antara lain dengan rutin mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, serta menggunakan masker ketika sedang mengalami gejala sakit.
Nugroho menegaskan, dengan sistem imun tubuh yang kuat, superflu tidak akan berdampak fatal dan relatif mudah dicegah maupun diobati.
“Tidak selalu harus dengan farmakologi atau obat-obatan. Jika daya tahan tubuh optimal, tubuh mampu mengeliminasi virus yang masuk dengan sendirinya,” ujarnya.
Terkait kesiapan fasilitas kesehatan, Nugroho memastikan bahwa rumah sakit dan tenaga medis di Jawa Tengah telah siap menghadapi berbagai kemungkinan. Hal tersebut sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, agar seluruh fasilitas kesehatan tetap siaga.
Menurutnya, pengalaman panjang dalam menangani pandemi Covid-19 menjadi bekal penting, mulai dari prosedur isolasi, pengendalian penularan, hingga tata laksana pengobatan.
“Insyaallah pengalaman tersebut menjadi kekuatan kita untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu virus ini merebak. Namun sekali lagi, masyarakat tidak perlu khawatir dan tetap fokus menjaga kesehatan,” pungkasnya. (R)