Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi meluncurkan Konsorsium DRIVE (Diabetic Retinopathy Initiative) sebagai upaya memperkuat layanan retinopati diabetik secara terintegrasi.Peluncuran konsorsium tersebut dirangkaikan dengan Workshop Kick Off Uji Coba Inovasi Penguatan Upaya Kesehatan Penglihatan yang digelar di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu.Konsorsium DRIVE merupakan inisiatif kolaboratif yang akan berjalan pada periode 2025–2030 dengan fokus utama memperkuat layanan retinopati diabetik mulai dari skrining, sistem rujukan, hingga tatalaksana sesuai standar pelayanan kesehatan. Program ini diharapkan mampu menekan angka kebutaan akibat komplikasi diabetes yang terus meningkat.Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa pengelolaan diabetes melitus tidak dapat hanya berfokus pada pengendalian kadar gula darah, tetapi harus mencakup pencegahan dan penanganan komplikasi, termasuk gangguan penglihatan.“Pengelolaan diabetes tidak berhenti pada pengendalian gula darah. Pencegahan komplikasi, termasuk retinopati diabetik, harus menjadi bagian dari penguatan pelayanan kesehatan yang terintegrasi,” ujar Dante dalam sambutannya.Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes melitus di Indonesia mencapai 11,7 persen atau sekitar 32 juta penduduk. Sementara itu, data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) periode 2015–2023 mencatat sekitar 5,2 juta kasus retinopati diabetik, dengan sekitar 1,2 juta di antaranya memerlukan tatalaksana lanjutan. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tantangan sistem kesehatan dalam mencegah dan menangani komplikasi diabetes, khususnya gangguan penglihatan.Melalui Konsorsium DRIVE, Kemenkes mendorong penguatan layanan kesehatan penglihatan melalui optimalisasi skrining berbasis teknologi digital dan tele-oftalmologi, penguatan sistem rujukan berjenjang, peningkatan kapasitas fasilitas dan tenaga kesehatan, serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti melalui uji coba inovasi di daerah.Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmidzi, menekankan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama dalam mencegah terjadinya komplikasi berat akibat diabetes.“Deteksi dini sangat penting untuk menemukan kasus lebih awal dan mencegah komplikasi seperti retinopati diabetik. Upaya ini harus diperkuat mulai dari layanan kesehatan tingkat pertama hingga layanan rujukan,” kata Nadia.Konsorsium DRIVE melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain organisasi profesi kesehatan, akademisi, dinas kesehatan daerah, RS Mata Cicendo, serta mitra strategis lainnya. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat penguatan layanan retinopati diabetik yang merata dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.Workshop Kick Off ini sekaligus menandai dimulainya tahap awal uji coba inovasi penguatan layanan kesehatan penglihatan yang akan menjadi dasar pengembangan kebijakan nasional di bidang pencegahan kebutaan akibat diabetes.Melalui peluncuran Konsorsium DRIVE, Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem kesehatan dalam menghadapi beban penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus, serta memastikan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan penglihatan yang berkualitas dan terjangkau. (R)