Jakarta (buseronline.com) - Film Autopsy: Dead Body Can Talk resmi diluncurkan pada Sabtu di Gedung Bakti Dharma Waspada STIK Polri, Jakarta Selatan. Film ini menyoroti perjalanan nyata Brigjen Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti DFM SpF, sosok dokter forensik Polri yang dikenal luas dalam penanganan kasus-kasus kematian tidak wajar dan penyidikan berbasis ilmu ilmiah.Karya layar lebar tersebut diproduksi oleh PT RINS Prime Entertainment bersama PT Karya Kreatif Utama. Mengusung pendekatan scientific crime investigation yang dipadukan dengan pengalaman supranatural, film ini menghadirkan perspektif berbeda tentang dunia kedokteran forensik yang jarang terekspos ke publik.Film ini berfokus pada perjalanan Dr Sumy Hastry—seorang dokter forensik yang dikenal tenang, teliti, dan berpengalaman menangani berbagai kasus pembunuhan viral di Indonesia. Dalam film, pengalaman empirisnya dipadukan dengan intuisi dan kejadian supranatural yang kerap menyertai proses pengungkapan kasus.Direktur PT RINS Prime Entertainment, Rina Laurentie Sindunata, menyampaikan bahwa film ini tidak hanya dibuat untuk menghibur, tetapi juga memberikan edukasi mengenai pentingnya autopsi dalam proses pembuktian ilmiah tindak pidana.Deretan aktor ternama ikut terlibat, antara lain Masayu Anastasia sebagai pemeran utama Dr Sumy Hastry, Samuel Rizal, Ge Pamungkas, Rifnu Wakana, Ryuka Bunga, dan sejumlah aktor pendukung lainnya.Dalam doorstop launching, Brigjen Pol Dr dr Sumy Hastry mengaku terkejut saat pertama kali mengetahui perjalanan hidupnya akan diangkat ke layar lebar.“Pertama kali diberitahu Mbak Rina, saya kaget dan nggak percaya. Saya sering dipanggil podcast, tapi tidak pernah terpikirkan untuk difilmkan,” ujarnya.Hastry juga mengenang masa ketika dirinya memilih spesialisasi forensik—keputusan yang dulu dianggap tidak lazim, terutama bagi seorang anggota Polwan.“Waktu itu belum ada dokter polisi wanita yang menjadi dokter forensik. Saya dianggap cewek aneh,” tuturnya sambil tersenyum.“Di film ini diceritakan bagaimana perjalanan awal saya masuk dunia forensik sampai akhirnya belajar terus hingga S3.”Ia berharap film tersebut dapat membuka wawasan lebih luas mengenai dunia forensik dan pentingnya pendekatan ilmiah dalam pengungkapan tindak kejahatan.“Harapan saya, film ini untuk edukasi. Masyarakat bisa tahu bahwa tugas polisi itu seperti ini—mengungkap kasus secara ilmiah, memburu pelaku, dan tidak pernah berhenti bekerja,” tegasnya.AKBP Rina Sry Nirwana Tarigan SIK, yang turut terlibat dalam pengembangan film, menegaskan bahwa Autopsy: Dead Body Can Talk menghadirkan perspektif berbeda karena berangkat dari kisah nyata.“Film horor itu banyak, tapi kalau yang based on true event, itu lebih menggugah masyarakat,” ujarnya.Ia menjelaskan bahwa film ini sepenuhnya menggunakan sudut pandang Dr Hastry, termasuk dalam menggambarkan proses saat melihat jenazah, menemukan kejanggalan, hingga mengurai kasus.Rina juga menyampaikan tantangan teknis dalam penggarapan adegan-adegan forensik agar tampil akurat dan sesuai prosedur.“Kami ada training singkat tentang forensik. Ibu menyediakan konsultan yang membantu tim prostetik agar darahnya, cara memotongnya, semuanya akurat,” ungkapnya. “Supernatural yang muncul bukan dibuat-buat. Itu based on her story.”Film ini menggambarkan perjalanan seorang dokter forensik yang mengandalkan sains namun tak menutup diri dari intuisi yang terbentuk melalui pengalaman panjang.Kisahnya diperkaya oleh karakter-karakter pendukung seperti Mojo sang asisten, Yatna sang dokumentalis, serta penyidik Rendra yang memperkuat dinamika penyidikan.Cerita menampilkan bagaimana ilmu kedokteran forensik bekerja di balik layar, sekaligus menyingkap sisi lain dari proses ilmiah yang sering kali bersinggungan dengan pengalaman nonrasional namun nyata dirasakan oleh pelakunya.Dengan peluncuran Autopsy: Dead Body Can Talk, masyarakat diharapkan dapat melihat sisi mendalam profesi forensik serta menghargai kompleksitas di balik setiap autopsi dan penyidikan ilmiah yang dilakukan Kepolisian RI. (R)