Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

AI Membantu Deteksi TBC, Dokter Ingatkan Bahaya Diagnosis Mandiri

EM Bukit MKes - Minggu, 30 November 2025 06:19 WIB
Para narasumber berdiskusi dalam Dialog Multistakeholder Towards a Smart Governance di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (26/11/2025). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) di sektor kesehatan terus menunjukkan perkembangan signifikan, termasuk dalam upaya deteksi dini tuberculosis (TBC).Namun demikian, Kementerian Kesehatan mengingatkan agar teknologi tersebut tidak disalahgunakan oleh masyarakat sebagai dasar diagnosis atau pengobatan mandiri tanpa pendampingan tenaga medis.Peringatan itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof Dante Saksono Harbuwono, saat menjadi pembicara dalam Dialog Multistakeholder Towards a Smart Governance yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta, Rabu.“Medical is a combination between science and art. Jadi keputusan di bidang kedokteran itu tidak bisa diambil hanya dari satu sumber informasi saja,” ujar Prof Dante.Ia menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan saat ini telah mengujicobakan pemanfaatan AI melalui teknologi portable X-ray untuk mendeteksi TBC. Teknologi tersebut sangat membantu dalam menemukan kasus-kasus TBC tersembunyi, khususnya pada individu yang tidak menunjukkan gejala klinis, namun memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.“Banyak mereka yang tidak bergejala tapi punya kontak erat. Dengan menggunakan artificial intelligence, kasus seperti ini bisa dideteksi lebih awal,” jelasnya.Menurut Prof Dante, penggunaan AI berpotensi mempercepat proses skrining dan meningkatkan cakupan deteksi dini TBC, yang selama ini menjadi salah satu tantangan besar dalam pengendalian penyakit menular tersebut di Indonesia.Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil analisis dari AI tidak boleh dijadikan acuan tunggal oleh masyarakat untuk menentukan diagnosis maupun pengobatan. Seluruh hasil pemeriksaan berbasis teknologi tetap harus dikonfirmasi dan diinterpretasikan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten.“Tidak semua informasi dari AI bisa diimplementasikan secara langsung oleh pasien. Ini harus ada supervisi tenaga medis dan regulasi yang jelas,” tegasnya.Prof Dante menambahkan, pemanfaatan AI di bidang kesehatan harus berjalan seiring dengan penguatan tata kelola, etika medis, serta literasi kesehatan masyarakat. Dengan demikian, inovasi teknologi dapat memberikan manfaat optimal tanpa menimbulkan risiko salah diagnosis atau kesalahan pengobatan.Kementerian Kesehatan, lanjutnya, terus mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung transformasi layanan kesehatan, namun tetap menempatkan keselamatan pasien dan peran dokter sebagai pengambil keputusan utama dalam pelayanan medis. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Taput Jadi Pelopor Digitalisasi Bansos, Luhut Tinjau Langsung Program Perlinsos Digital di Siborong-borong

Kesehatan

Menkes Targetkan Temukan 37 Ribu Kasus Kusta untuk Percepat Eliminasi Nasional

Kesehatan

Pemprov Jateng Pastikan APBD dan Program Pembangunan Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Kesehatan

Tas Karakter Bright Gas Viral di Jakarta Fair 2026, Dongkrak UMKM dan Serap Tenaga Kerja

Kesehatan

Pendaftaran TKA dan Asesmen Nasional 2026 Dimajukan, Sekolah Diminta Segera Perbarui Data Siswa

Kesehatan

Bandung dan Pekanbaru Sepakati Kerja Sama Penguatan Pelayanan Publik dan Peningkatan PAD