Semarang (buseronline.com) - Memasuki musim hujan, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis. Genangan air dan banjir dapat menjadi media penyebaran bakteri Leptospira interrogans yang berasal dari urine hewan terinfeksi, terutama tikus.Peringatan tersebut disampaikan narasumber dari Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr Nani, dalam webinar bertajuk Implementasi Konsep One Health dalam Mencegah dan Mengendalikan Leptospirosis di Jawa Tengah yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis.Menurut Nani, leptospirosis merupakan penyakit yang berpotensi fatal sehingga masyarakat perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain mengendalikan populasi tikus, menjauhi genangan air, serta menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di area banjir.“Masyarakat harus rajin mencuci tangan dan kaki agar bakteri Leptospira tidak sempat masuk ke tubuh. Gunakan air mengalir dan sabun, jangan menggunakan air tampungan,” tegasnya.Ia juga memaparkan empat aspek penanggulangan leptospirosis dengan pendekatan One Health, yakni pencegahan, surveilans, penanganan kasus, dan promosi kesehatan. Promosi kesehatan disebut menjadi aspek yang sangat penting di tengah meningkatnya curah hujan.Pelaksana Tugas (Plt) Subkoordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zanuar Abidin, menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan terinfeksi.Zanuar menyebut kasus leptospirosis di Jawa Tengah hingga September 2025 masih menjadi perhatian serius. Tercatat 685 kasus dengan 108 kematian atau case fatality rate (CFR) 16,41 persen. Angka itu meningkat dibandingkan tahun 2024 dengan 545 kasus dan 66 kematian (CFR 12,11 persen).“Risiko leptospirosis meningkat saat musim hujan maupun genangan air. Karena itu, penerapan One Health harus diperkuat,” ujarnya.Menurut Zanuar, keberhasilan penanganan leptospirosis membutuhkan kolaborasi sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Sinergi lintas sektor dinilai mampu memperkuat deteksi dini, respons cepat, serta upaya pencegahan.“Harapannya pengendalian akan lebih sukses apabila sektor One Health terlibat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga monitoring dan evaluasi,” imbuhnya.Peneliti Ahli Madya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menambahkan bahwa curah hujan tinggi dan banjir dapat mengubah ekologi serta perilaku tikus. Dalam kondisi tersebut, tikus cenderung bergerak ke area permukiman untuk mencari tempat kering dan makanan, sehingga kontak dengan manusia lebih sering terjadi.“Penanganan tikus, kebersihan lingkungan, dan perlindungan kesehatan masyarakat di daerah terdampak banjir harus dilakukan secara terpadu dan cepat untuk mencegah wabah leptospirosis,” tegasnya.Melalui pendekatan One Health, pemerintah berharap penanganan leptospirosis dapat dilakukan lebih efektif, khususnya di wilayah rawan banjir di Jawa Tengah. (R)