Jakarta (buseronline.com) - Dunia medis Indonesia kembali mencatat capaian penting. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati berhasil melakukan operasi transplantasi hati dari seorang anak kepada ayahnya yang menderita sirosis hati. Keberhasilan ini disaksikan langsung oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, di Jakarta, Rabu.Dalam kesempatan itu, Menkes Budi menyampaikan kekagumannya terhadap keunikan organ hati yang mampu beregenerasi setelah dicangkokkan.“Ada satu organ manusia yang kalau dicangkok bisa tumbuh kembali, yaitu hati,” ujar Menkes.Kasus tersebut melibatkan Pertiwi, seorang anak yang mendonorkan sebagian hatinya untuk sang ayah yang menderita sirosis akibat infeksi Hepatitis B kronis. Meski sempat diliputi rasa takut, Pertiwi akhirnya mantap menjadi donor setelah mendapat penjelasan lengkap dari tim dokter.“Pertama saya ragu apakah hati saya bisa tumbuh lagi. Tapi setelah dijelaskan dokter bahwa hati bisa sembuh dan tumbuh kembali, saya mau mendonorkan hati saya untuk Bapak. Sekarang saya sehat dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa,” ungkapnya.Sebanyak 70 persen organ hati Pertiwi diambil untuk dicangkokkan ke tubuh ayahnya. Dalam waktu 5–6 bulan, hati sang donor akan tumbuh kembali seperti semula.Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Fatmawati, dr Nikko Darnindro SpPD, menjelaskan bahwa pasien berusia 58 tahun tersebut sudah mengalami penurunan fungsi hati berat dengan komplikasi seperti perdarahan saluran cerna dan penurunan kesadaran.“Transplantasi hati menjadi satu-satunya pilihan terapi yang dapat menyelamatkan nyawa pasien,” ujar dr Nikko.Prosedur Living Donor Liver Transplantation (LDLT) ini dilaksanakan pada 23 September 2025 oleh Tim Transplantasi Hati RS Fatmawati bekerja sama dengan Seoul National University Hospital (SNUH) di bawah pimpinan Prof Kwang Woong Lee.“Operasi berlangsung lancar dan pasien menunjukkan perbaikan klinis serta laboratorium yang signifikan,” tambah dr Nikko.Kini pasien berada dalam kondisi stabil, kesadaran pulih, dan fungsi hati terus membaik. Ia juga telah mendapat edukasi untuk menjalani perawatan lanjutan di rumah.Keberhasilan ini menjadi langkah besar RS Fatmawati dalam memperkuat kapasitas nasional di bidang transplantasi hati. Seluruh biaya operasi ditanggung oleh BPJS Kesehatan, sehingga pasien tidak terbebani biaya tinggi.Menkes Budi menyampaikan apresiasi atas kerja keras tim medis RS Fatmawati yang berani mengambil langkah besar dalam layanan transplantasi di Indonesia.“Kasus gagal hati di Indonesia masih banyak, tapi layanan transplantasi belum siap. Karena itu saya minta RS Fatmawati berani melakukannya,” tegas Menkes.Namun demikian, Menkes juga menyoroti pentingnya peningkatan tingkat keberhasilan transplantasi hati di Tanah Air.“Tingkat kematian transplantasi hati kita masih 60 persen. Dari 10 pasien, 6 meninggal. Sementara di Korea, dari 10 pasien, 9 selamat. Karena itu saya minta tim Fatmawati terus belajar ke luar negeri, dan hari ini mereka berhasil membuktikannya,” tuturnya.Ke depan, Menkes berharap RS Fatmawati dapat terus mengembangkan layanan transplantasi hati serta berbagi pengalaman kepada rumah sakit lain di Indonesia agar semakin banyak pasien gagal hati yang terselamatkan.“Keberhasilan ini memberi harapan baru bagi masyarakat. Indonesia bisa, asal berani dan terus belajar,” pungkasnya. (R)