Jakarta (buseronline.com) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meninjau fasilitas laboratorium dan pusat penelitian genomik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), termasuk Laboratorium Mikrobiologi Klinik dan Gedung Eijkman, Kamis.Kunjungan dimulai dengan peninjauan Ruang Sekuensing, pusat kegiatan human whole genome sequencing (hWGS) yang mendukung riset genomik nasional. Menkes juga melihat Biobank sebagai pusat penyimpanan sampel biologis berstandar internasional, serta Server Room yang mengelola data genomik berskala besar dengan sistem keamanan mutakhir.Selanjutnya, Menkes meninjau Ruang Program Generasi Sehat, yang dipersiapkan untuk pengembangan program kesehatan berbasis data genomik. Kunjungan ditutup di Laboratorium Uji Klinik RSCM, yang berperan penting dalam penelitian terapan dan pengujian klinis untuk mendorong inovasi layanan kesehatan.Menkes mengapresiasi capaian Bio Genome Science Initiative (BGSi) sesuai roadmap program nasional.“Kita patut bangga karena infrastruktur riset genomik Indonesia semakin maju. Data genomik akan menjadi fondasi penting untuk mendukung precision medicine, kesehatan masyarakat, serta generasi Indonesia yang lebih sehat di masa depan,” ujar Menkes.Pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran sebesar Rp30 M untuk Program Generasi Sehat pada 2026, lebih efisien dibanding rencana awal Rp300 M. Kebutuhan tambahan akan ditopang melalui skema multi donor trust fund (MDTF) dengan komitmen awal sekitar Rp10,9 M.Menurut Menkes, penguatan riset dan laboratorium di RSCM merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan di Indonesia, dengan tujuan menghadirkan layanan presisi, berbasis data, dan berstandar internasional. Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor agar riset genomik Indonesia berdaya saing global dan berdampak nyata bagi masyarakat.Direktur Utama RSCM, dr Supriyanto, menyatakan kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan RSCM dalam riset dan layanan berbasis genomik.“Kunjungan Bapak Menteri dan jajaran ini melihat langsung perkembangan fasilitas, potensi yang bisa terus dikembangkan, serta hambatan yang perlu segera dipecahkan—mulai dari sarana-prasarana hingga regulasi. Semua ini penting agar pelayanan dan penelitian di RSCM berkembang lebih pesat, sejalan dengan standar negara maju,” kata dr Supriyanto.Selain fasilitas BGSi, Menkes juga meninjau Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSCM. Ketua KSM Mikrobiologi Klinik, dr Yulias Rosa, memperkenalkan sejumlah instrumen diagnostik terbaru, antara lain:1. Mesin Kultur Darah untuk mendeteksi patogen penyebab sepsis secara cepat, khususnya pada pasien ICU.2. MALDI-TOF, teknologi mutakhir di Indonesia untuk identifikasi mikroorganisme hingga tingkat spesies dalam 30 detik, termasuk bakteri, jamur, kapang, dan Mycobacterium tuberculosis.3. Alat Uji Kepekaan Antibiotik untuk memastikan pasien mendapat terapi sesuai pola resistensi mikroba.“Dengan teknologi ini, pasien infeksi, termasuk sepsis di ICU, bisa mendapat diagnosis cepat dan akurat sehingga terapi lebih tepat sasaran. Ke depan, kami akan mengembangkan pemeriksaan berbasis molekuler untuk mengidentifikasi mikroba hingga gen resistensi antibiotiknya,” jelas dr Yulias Rosa.Ia juga melaporkan perkembangan implementasi BGSi. Hingga 10 September 2025, telah direkrut 15.231 partisipan, dihasilkan 12.378 data hWGS, dilakukan 11.349 analisis sekunder, serta 5.781 analisis farmakogenomik. Kapasitas maksimal pemeriksaan hWGS mencapai 15.456 sampel per tahun, dengan asumsi operasional lima hari kerja per minggu selama 46 minggu efektif. (R)