Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Bumil Wajib Tahu: Pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan untuk Cegah Stunting

EM Bukit MKes - Selasa, 12 Agustus 2025 12:30 WIB
Kader posyandu mengukur tinggi badan balita saat pemantauan tumbuh kembang di Kota Bandung, Jumat (8/8/2025). (Dok/Diskominfo Bandung)
Bandung (buseronline.com) - Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) disebut sebagai “periode emas” yang sangat menentukan masa depan anak. Periode ini dimulai sejak masa kehamilan selama 270 hari hingga anak berusia dua tahun atau 730 hari.Pada fase tersebut, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat dan tidak dapat diulang kembali. Karena itu, perhatian khusus pada periode ini menjadi kunci pencegahan stunting.Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Dewi Primasari, menegaskan bahwa gizi cukup, ASI eksklusif, dan kesehatan ibu serta anak selama 1.000 HPK sangat mempengaruhi kualitas tumbuh kembang.“Kalau di masa ini anak tidak dapat gizi cukup, tidak diberi ASI eksklusif, atau sering sakit, dampaknya bisa panjang. Anak bisa tumbuh lebih pendek, lambat berpikir, bahkan kesulitan belajar di kemudian hari,” ujar Dewi saat Talkshow Radio Sonata bersama PRFM Bandung, Jumat.Dinas Kesehatan Kota Bandung menjalankan berbagai program, mulai dari edukasi ibu hamil, pemberian suplemen, imunisasi lengkap, hingga pemantauan tumbuh kembang balita. Langkah ini bertujuan memastikan anak mendapatkan fondasi kesehatan yang kuat sejak awal kehidupan.Dewi menjelaskan, stunting umumnya disebabkan kurangnya asupan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Banyak ibu hamil belum memahami pentingnya konsumsi protein hewani, sayur, dan vitamin selama masa kehamilan.Selain itu, bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama lebih rentan mengalami stunting. MP-ASI yang kurang tepat, ditambah lingkungan yang tidak bersih, dapat menghambat penyerapan gizi karena anak rentan terkena penyakit.“Infeksi berulang seperti diare, ISPA, atau TBC sering terjadi di daerah padat penduduk. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan perilaku hidup bersih sehat sama pentingnya dengan pemberian gizi,” jelas Dewi.Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam intervensi stunting sejak dini, mulai dari pemeriksaan rutin ibu hamil, pemberian tablet tambah darah dan vitamin, hingga memastikan persalinan aman. Setelah anak lahir, kader posyandu memantau tumbuh kembang balita setiap bulan, memberikan imunisasi, vitamin A, dan makanan tambahan sesuai kebutuhan.“Kalau ada balita yang berat badannya tidak naik, langsung kita intervensi dengan perbaikan gizi. Prinsipnya, kita tidak menunggu sampai terlambat,” tegas Dewi.Tak hanya itu, penyuluhan juga diberikan kepada remaja putri dan calon pengantin. Tujuannya, generasi mendatang lebih siap secara kesehatan reproduksi sehingga dapat melahirkan anak sehat dan bebas stunting.“Mencegah stunting itu bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tapi tugas kita semua. Karena masa depan anak-anak adalah masa depan kita bersama,” tutup Dewi. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Pertamina Tuntaskan Penataan 31 Entitas Anak Usaha pada Semester I 2026

Kesehatan

Pertamina Salurkan 200 Paket Bantuan Pendidikan untuk Siswa Prasejahtera di Banyuwangi

Kesehatan

Kemendikdasmen Luncurkan SPMB PJJ 2026, Upaya Kembalikan Jutaan Anak Tidak Sekolah

Kesehatan

Kemenkes Kirim Bantuan Logistik Kesehatan untuk Korban Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kesehatan

Maroko Gilas Kanada 3-0, Singa Atlas Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Kesehatan

APBN Jawa Tengah Tetap Terjaga, Menkeu Purbaya Tinjau Program Prioritas Pemerintah di Semarang