Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan, Eliminasi Butuh Lawan Stigma dan Kolaborasi Lintas Sektor

EM Bukit MKes - Selasa, 29 Juli 2025 07:12 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memeriksa kondisi kaki seorang penyintas kusta saat kunjungan kerja penguatan program eliminasi kusta di Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Rabu (23/7/2025).
Bekasi (buseronline.com) - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penyakit kusta bukanlah kutukan, melainkan penyakit yang dapat disembuhkan sepenuhnya jika dideteksi dan ditangani sejak dini. Namun, stigma sosial yang masih kuat membuat banyak penderita memilih menyembunyikan kondisinya daripada mencari pengobatan.“Kusta itu bisa disembuhkan. Obatnya ada dan gratis. Tapi karena stigma, orang takut melapor. Takut diejek, dikira kena kutukan. Akibatnya, penyakit terlambat ditemukan, menular, dan bahkan menyebabkan disabilitas,” ujar Menkes saat kunjungan kerja penguatan program eliminasi kusta di Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Rabu.Menkes menekankan bahwa kusta bukan penyakit yang mudah menular. Dibutuhkan kontak erat dan berkepanjangan untuk terjadi penularan. Berbeda dengan Covid-19, kusta tidak menular hanya dengan berbicara atau bersentuhan singkat.“Kalau Covid-19 bisa nular saat bicara, tapi kusta tidak. Harus kontak lama. Selama pasien dalam pengobatan, tidak berbahaya. Jadi tidak perlu takut bersosialisasi dengan mereka,” tegasnya.Ia juga menggarisbawahi pentingnya deteksi dini. Bila terlambat ditangani, kusta bisa menyebabkan kerusakan saraf hingga disabilitas. Padahal pengobatannya hanya membutuhkan waktu enam bulan, dengan obat yang tersedia secara gratis di layanan kesehatan.“Begitu ada satu kasus ditemukan, keluarga dekat langsung diberi obat pencegahan satu kali minum. Ini cukup untuk memutus rantai penularan,” tambah Menkes.Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti hubungan erat antara kusta dan kemiskinan. Ia menilai penanganan kusta harus dibarengi dengan dukungan gizi dan sosial bagi penderita dan keluarganya.“Kusta ini sering terjadi di kalangan masyarakat miskin. Jangan cuma disuruh makan bergizi, tapi tidak diberi. Saya dan Pak Bupati siap bantu Rp1 juta per bulan untuk keluarga penderita, asal benar-benar digunakan untuk kebutuhan gizi,” katanya.Gubernur juga mengusulkan insentif bagi tenaga kesehatan yang mendampingi pasien hingga sembuh. “Kalau ada perawat dampingi lima pasien, kunjungan rutin, dan pasien sembuh, saya kasih bonus Rp10 juta. Ini bentuk penghargaan nyata atas pengabdian,” ujarnya.Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang menyatakan komitmennya menjadikan kesehatan sebagai bagian utama dari pembangunan desa, termasuk perbaikan rumah tidak layak huni bagi penderita kusta.“Kita ingin bangun Bekasi dari desa. Mulai dari sanitasi, rumah sehat, hingga data desa yang presisi. Kalau rumah penderita kusta tidak layak, kita bantu rehab,” jelasnya.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, dr Alamsyah mengakui bahwa stigma masih menjadi kendala utama dalam penanganan kusta. Banyak penderita enggan berobat karena takut dikucilkan.“Padahal pengobatan ada, gratis, dan efektif. Tapi stigma membuat banyak yang sembunyi-sembunyi,” tegasnya.Data Dinas Kesehatan mencatat, hingga Juni 2025 terdapat 121 kasus baru kusta di Kabupaten Bekasi dengan Case Detection Rate (CDR) sebesar 3,34. Mayoritas merupakan kusta tipe multibasiler (MB), bahkan ditemukan 6 kasus pada anak-anak, yang menandakan penularan masih aktif di tingkat keluarga.Kunjungan Menkes dan Gubernur disebut sebagai momentum penting untuk mengubah persepsi publik dan memperkuat sinergi semua pihak dalam upaya eliminasi kusta.“Ini bukan aib. Ini momentum bagi Bekasi untuk menunjukkan bahwa kita bisa eliminasi kusta lewat kolaborasi lintas sektor, dari pusat hingga desa,” pungkas dr Alamsyah.Saat ini, program eliminasi kusta di Kabupaten Bekasi dijalankan secara kolaboratif antara Puskesmas, rumah sakit, klinik swasta, kader desa, dan didukung organisasi internasional seperti NLR (No Leprosy Relief). (R)

Editor
: EM Bukit MKes
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Pertamina Tuntaskan Penataan 31 Entitas Anak Usaha pada Semester I 2026

Kesehatan

Pertamina Salurkan 200 Paket Bantuan Pendidikan untuk Siswa Prasejahtera di Banyuwangi

Kesehatan

Kemendikdasmen Luncurkan SPMB PJJ 2026, Upaya Kembalikan Jutaan Anak Tidak Sekolah

Kesehatan

Kemenkes Kirim Bantuan Logistik Kesehatan untuk Korban Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kesehatan

Maroko Gilas Kanada 3-0, Singa Atlas Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Kesehatan

APBN Jawa Tengah Tetap Terjaga, Menkeu Purbaya Tinjau Program Prioritas Pemerintah di Semarang