Bandung (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) resmi meluncurkan Program Pengampuan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Provinsi Jawa Barat.Peluncuran ini ditandai dengan kegiatan Kick Off Intervensi Pencegahan dan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI-AKB) yang berlangsung di Auditorium Pusat Pelayanan Ibu dan Anak Terpadu, Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung.Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya menekankan bahwa persoalan AKI dan AKB bukan sekadar angka statistik, melainkan menyangkut keselamatan nyawa manusia.“Kalau Jawa Barat bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi, maka angka nasional juga ikut turun. Karena 17 persen kematian ibu dan bayi terjadi di Jawa Barat,” tegas Menkes.Program ini merupakan langkah strategis dan terukur untuk menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir serta menurunkan prevalensi stunting.Pelaksanaannya akan melibatkan rumah sakit rujukan nasional yang berperan sebagai pengampu, serta jejaring fasilitas kesehatan primer di daerah.Direktur Jenderal Kesehatan Layanan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr Endang Sumiwi menjelaskan bahwa Jawa Barat dipilih sebagai provinsi pertama penerapan program karena tingginya beban AKI dan AKB, serta kualitas pelaporan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah mencapai lebih dari 90 persen.Tiga kabupaten yang menjadi prioritas intervensi adalah Kabupaten Bogor, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Bandung. Masing-masing akan didampingi oleh rumah sakit pengampu nasional, yakni RSAB Harapan Kita, RSCM, dan RSHS Bandung.Sebanyak 12 puskesmas dan jejaring fasyankes tingkat pertama akan dilibatkan dalam penguatan layanan.“Pengampuan akan difokuskan pada standarisasi SOP klinis, penguatan sistem rujukan, pelatihan berkelanjutan, serta mentoring langsung oleh rumah sakit pengampu,” ujar dr Endang.Kemenkes menargetkan keberhasilan implementasi di Jawa Barat dapat menjadi model nasional yang dapat direplikasi di seluruh provinsi melalui pendekatan berbasis data, kolaborasi lintas sektor, dan penguatan komunitas.Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyambut baik program ini dan menekankan pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan.“Kesehatan masyarakat tak bisa hanya mengandalkan rumah sakit. Harus dibangun dari rumah, sekolah, dan lingkungan,” ungkap Gubernur Dedi.Ia juga mengusulkan kebijakan preventif seperti pemeriksaan kesehatan pranikah, bekal makanan sehat untuk anak sekolah, serta sertifikasi kesehatan bagi pedagang jajanan sekolah.Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan juga mengapresiasi capaian Jawa Barat dalam menurunkan angka stunting yang kini berada di angka 15,9 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 19,8 persen.“Ini luar biasa, karena penduduk Jawa Barat paling banyak dan jumlah ibu hamil tertinggi,” tambah Menkes.Program ini diharapkan dapat mempercepat perbaikan indikator kesehatan ibu dan anak serta menjadi tonggak transformasi layanan kesehatan primer di Indonesia. (R)