Bogor (buseronline.com) - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam upaya pencegahan penyakit thalassemia. Diperkirakan 6 hingga 10 persen penduduk Indonesia merupakan pembawa sifat thalassemia, yang berisiko menurunkan penyakit ini kepada anak-anak mereka.Karena belum ditemukan obat untuk thalassemia mayor, langkah paling efektif adalah melalui pencegahan sejak dini, terutama melalui pemantauan kesehatan sebelum menikah.Hal tersebut disampaikan Direktur Utama RS PMI Kota Bogor, Dr Sutarto, dalam Seminar Kesehatan Thalassemia bertema “Menyatukan Masyarakat, Memprioritaskan Pasien”, yang digelar di Kalla Ballroom, RS Palang Merah Indonesia (PMI), Jalan Raya Pajajaran, Kota Bogor, Sabtu.“Harapan kami melalui seminar ini masyarakat bisa memahami bahwa pemantauan kesehatan sebelum menikah sangat penting, terutama jika dalam keluarga ada riwayat thalassemia. Jangan sampai dua pembawa sifat menikah dan melahirkan anak dengan thalassemia mayor,” ujar Dr Sutarto di hadapan peserta seminar yang terdiri atas masyarakat umum, tenaga kesehatan, dan keluarga penyintas.Thalassemia mayor merupakan bentuk penyakit genetik yang menyebabkan penderitanya harus menjalani transfusi darah seumur hidup. Selain menimbulkan beban psikologis dan ekonomi, penyakit ini juga menghambat kualitas hidup generasi muda.Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor, Yantie Rachim, yang turut hadir sebagai pembicara, menegaskan bahwa thalassemia bukan hanya persoalan medis, tetapi juga menyangkut isu sosial dan masa depan bangsa.“Menghadapi tingginya angka pembawa sifat thalassemia, kita harus bergerak lebih luas, memberi edukasi dan pemantauan, terutama sebelum pernikahan untuk mencegah thalassemia mayor,” ujar Yantie.Ia menyampaikan bahwa keluarga memiliki peran utama dalam menjaga kesehatan generasi, dan TP PKK Kota Bogor siap mendukung upaya pencegahan thalassemia melalui berbagai program edukasi di masyarakat.“Kita tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit. Dibutuhkan gerakan sosial aktif, termasuk edukasi kepada orangtua, guru, hingga anak-anak,” ucapnya.TP PKK, lanjut Yantie, akan terus memperkuat kolaborasi dengan tenaga kesehatan, sekolah, dan komunitas. Beberapa program yang dijalankan di antaranya melalui Pokja III dan IV yang fokus pada ketahanan pangan dan kesehatan keluarga, serta penyuluhan tentang pentingnya skrining pranikah.“Mari jadikan momen ini sebagai awal gerakan bersama. Kita cegah thalassemia mulai dari rumah. Keluarga sadar thalassemia adalah fondasi bangsa yang kuat,” tegas Yantie Rachim.Seminar ini menjadi bagian dari kampanye promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini penyakit genetik dan menekan jumlah kasus thalassemia mayor di Indonesia, khususnya di Kota Bogor. (R)