Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memperkuat pemerataan pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.
Dilansir dari laman Kemkes, salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan status 66
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dari Kelas D menjadi Kelas C. Dari total tersebut, sebanyak 21 RSUD telah menyelesaikan pembangunan hingga 100 persen.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono mengatakan program peningkatan kelas rumah sakit tersebut merupakan bagian dari arah pembangunan kesehatan dalam Visi Misi Presiden 2025-2029.
Program ini difokuskan untuk menghadirkan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan merata hingga tingkat kabupaten, terutama dalam mendekatkan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan penyakit katastropik, yakni kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU).
Hal tersebut disampaikan Dante dalam Forum Pakar: Menguji Kebijakan, Memperkuat Manfaat Bagi Rakyat di Jakarta, pada 29 Oktober 2026.
"Kita sudah mengevaluasi penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian dan berdampak pada pembiayaan, yang kita sebut sebagai penyakit katastropik. Ada empat: kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi," ujar Dante.
Ia menjelaskan, peningkatan kapasitas rumah sakit tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik. Kemenkes juga memastikan ketersediaan alat kesehatan, pemenuhan tenaga medis, serta penataan layanan agar masyarakat tidak perlu lagi dirujuk ke kota besar untuk mendapatkan pengobatan.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah layanan kateterisasi jantung atau catheterization laboratory (cath lab), termasuk tindakan pemasangan ring jantung. Secara bertahap, fasilitas tersebut akan disediakan di RSUD tingkat kabupaten.
Kemenkes juga memberikan perhatian kepada daerah yang masih memiliki keterbatasan akses kesehatan, seperti Provinsi Aceh yang telah menerima dukungan alat kesehatan.
Dengan dukungan tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperoleh penanganan penyakit jantung di daerah sendiri tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke Jakarta.
"Jadi kalau ada orang dengan sakit jantung, dia enggak perlu datang ke Jakarta, dia bisa diobati, dipasang ring di Aceh," tutur Dante.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penyediaan peralatan medis harus disertai ketersediaan dokter spesialis agar fasilitas kesehatan dapat beroperasi secara optimal.