Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Dilansir dari laman Kemkes, penanganan kesehatan jiwa perlu menjadi perhatian utama dengan mengedepankan pendekatan inklusif serta dukungan keluarga dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Prof dr Dante Saksono Harbuwono saat membuka talkshow bertajuk "Sehat Jiwaku, Unik Caraku: Keluarga Merangkul, Kesehatan Jiwa Terjaga, Neurodivergen Berdaya" dalam rangkaian Festival Suara Jiwa di Jakarta, pada 11 Oktober 2026.
Dante mengatakan, kesehatan jiwa tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan yang terpinggirkan, melainkan harus menjadi bagian penting dalam pembangunan manusia Indonesia.
"Kesehatan jiwa yang lebih kuat mendukung terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang lebih unggul," ujar Dante.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan perhatian kepada individu neurodivergen, termasuk mereka yang mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi kesempatan anak dalam mengembangkan potensi dan meraih masa depan.
Dante mencontohkan Jacques Dubochet, peraih Nobel Kimia 2017 yang merupakan penyandang disleksia. Contoh tersebut disampaikan untuk memotivasi masyarakat agar tidak menjadikan kesulitan belajar sebagai penghalang bagi anak untuk berkembang.
"Kesulitan yang dialami anak saat ini tidak menentukan masa depannya. Kita ingin mereka yang mengalami masalah kejiwaan tidak lagi dimarginalisasikan, tetapi kita rangkul," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas
Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengungkapkan bahwa beban gangguan kesehatan jiwa di Indonesia masih tinggi.
Di sisi lain, kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dan akses terhadap pengobatan masih menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan jiwa.
Berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2023, gangguan jiwa menempati posisi kedua sebagai penyebab terbesar Years Lived with Disability (YLD) di Indonesia. Depresi, gangguan kecemasan, dan skizofrenia menjadi kontributor terbesar.
Adapun Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Sementara itu, prevalensi gangguan jiwa berat tercatat sebesar 4 per 1.000 anggota rumah tangga.
Endang menyebut akses pengobatan bagi penderita depresi masih rendah. Berdasarkan data yang disampaikan, baru 12,7 persen penderita depresi yang menerima pengobatan.
"Artinya, hampir 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum tersentuh penanganan medis," jelas Endang.
Keterbatasan tenaga kesehatan jiwa dan distribusinya yang belum merata turut memperberat tantangan tersebut.
Data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) per 1 September 2026 mencatat Indonesia memiliki 1.495 psikiater, dengan rasio satu psikiater untuk setiap 180 ribu penduduk.
Jumlah tersebut masih jauh dari acuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni satu psikiater untuk setiap 30 ribu penduduk. Selain itu, dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang yang bertugas di Puskesmas.
Untuk memperluas akses pelayanan, Kemenkes terus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta layanan kesehatan bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan.