Jepara (buseronline.com) - Pemerintah Kabupaten Jepara melibatkan para guru dalam upaya meningkatkan edukasi tentang penyakit kusta. Dilansir dari laman Jatengprov, langkah ini dilakukan untuk menghapus stigma negatif dan diskriminasi terhadap anak dengan kusta di lingkungan sekolah.
Bupati
Jepara Witiarso Utomo mengatakan, kusta tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan persoalan sosial akibat masih adanya ketakutan, ketidaktahuan, stigma, dan diskriminasi.
Hal itu disampaikannya saat Workshop Penghapusan Stigma Kusta, Penguatan Peran Guru dan Kampanye Percepatan Eliminasi Kusta di Indonesia, di Pendapa RA Kartini Jepara, pada 28 September 2026.
"Ini sangat penting, karena kenyataannya kusta bukan semata-mata persoalan kesehatan. Ada hal lain yang juga penting dan harus kita lawan, mulai dari ketakutan, stigma, ketidaktahuan, dan diskriminasi yang selama ini masih menyertai penyakit tersebut," ujar Witiarso.
Dia menyebut, berdasarkan data WHO, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus kusta cukup tinggi. Indonesia berada di peringkat ketiga dunia untuk jumlah kasus kusta, setelah India dan Brasil.
Pada 2025, terdapat lebih dari 16.000 kasus baru kusta di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 9,1 persen merupakan anak-anak. Sementara di
Jawa Tengah, kasus kusta diperkirakan mencapai sekitar 1.600 kasus.
Di Kabupaten Jepara, lanjut Witiarso, terdapat sekitar sembilan anak yang teridentifikasi kusta. Anak-anak tersebut berada pada rentang usia 9 hingga 15 tahun.
Selama ini, anak-anak tersebut telah mendapatkan pendampingan dari Dinas Kesehatan. Namun, penanganan secara medis dinilai belum cukup karena dukungan lingkungan sekolah juga sangat diperlukan.
"Sekarang kita libatkan guru-guru, agar anak-anak ini bisa diterima di sekolah dan tidak mengalami diskriminasi," katanya.
Menurut Witiarso, sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi anak dengan kusta. Anak-anak tersebut harus tetap mendapatkan hak pendidikan serta kesempatan untuk belajar dan bersosialisasi tanpa perlakuan berbeda.