Kemenkes Ingatkan Masyarakat Jangan Abaikan Tanda Gangguan Jiwa, Kenali Sejak Dini

Heri - Minggu, 06 September 2026 13:30 WIB
Wamenkes RI Prof Dante Saksono Harbuwono dalam Media Briefing Kesehatan Jiwa di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda gangguan kesehatan jiwa. Dilansir dari laman Kemkes, deteksi dan penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah masalah kejiwaan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof Dante Saksono Harbuwono mengatakan, gangguan kesehatan jiwa sering kali tidak terlihat secara fisik. Akibatnya, seseorang yang sebenarnya sedang mengalami masalah kejiwaan bisa saja terlihat sehat dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Orang sebenarnya kelihatan sehat, tetapi kalau kita evaluasi, dia punya masalah. Tidak kelihatan secara fisik, tetapi secara mental dia punya masalah. Ini banyak sekali terjadi di lingkungan kita sehari-hari," ujar Dante dalam Media Briefing Kesehatan Jiwa di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta, pada 4 September 2026.

Menurut Dante, masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Pertolongan juga tidak harus selalu dilakukan oleh tenaga profesional. Lingkungan terdekat dapat memberikan dukungan awal kepada seseorang yang sedang menghadapi masalah kejiwaan.

Dante memperkenalkan empat langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, yakni Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan. Langkah pertama, Tanya, dilakukan dengan berani menanyakan kondisi seseorang yang terlihat mengalami perubahan.

Selanjutnya, Dengarkan, yakni memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk bercerita tanpa menghakimi. Kemudian, Temani, dengan memastikan bahwa orang yang mengalami masalah tidak merasa sendirian.

Terakhir, Hubungkan, yaitu membantu mengarahkan orang tersebut kepada keluarga atau tenaga profesional apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Tidak perlu menjadi ahli untuk menolong orang yang mengalami gangguan jiwa. Mulai dengan empat langkah sederhana: Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan," kata Dante.

Ia menegaskan masyarakat tidak perlu menunggu sampai kondisi seseorang mengalami krisis. Gejala yang muncul sejak awal perlu mendapatkan perhatian agar dapat segera ditangani.

"Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis," tegasnya.

Secara global, sekitar satu dari tujuh orang hidup dengan gangguan kejiwaan. Kondisi tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas hidup sehingga kesehatan jiwa perlu menjadi perhatian bersama.

Masyarakat diminta memperhatikan perubahan pada kondisi fisik, emosi, maupun perilaku, khususnya apabila perubahan tersebut berlangsung secara konsisten selama lebih dari dua minggu.

Sejumlah tanda yang perlu diwaspadai antara lain perubahan pola tidur, tubuh sering terasa lemas, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, serta perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok.

Kemenkes juga terus memperkuat upaya deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Berdasarkan pelaksanaan CKG, sekitar 35.000 anak atau 1,08 persen teridentifikasi mengalami gangguan jiwa.

Sementara pada kelompok dewasa, sekitar 186.000 orang teridentifikasi mengalami gangguan depresi dan kecemasan.

Selain melalui CKG, masyarakat dapat melakukan skrining kesehatan jiwa secara mandiri melalui aplikasi SATUSEHAT menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire (SRQ-20).


Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Kemenkes dan CEPI Uji Kesiapan Indonesia Hadapi Ancaman Pandemi Baru

Kesehatan

Kemenkes Luncurkan 25 Prodi PPDS Hospital-Based, 54 Peserta Batch IV Mulai Pendidikan

Kesehatan

Kemenkes Luncurkan SATUSEHAT RME, Rekam Medis Pasien Terintegrasi Nasional

Kesehatan

CKG Sekolah Diperkuat, UKS Didorong Jadi Penghubung Layanan Kesehatan dan Pendidikan

Kesehatan

Kemenkes Perkuat Penanganan Dampak Kesehatan Akibat Karhutla

Kesehatan

Wamenkes Dorong Gerakan Ayah Siaga untuk Dukung Kesehatan Anak