Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus memperkuat penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono menyampaikan perkembangan penanganan dampak kesehatan Karhutla dalam media briefing di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada 28 Agustus 2026.
Dilansir dari laman Kemkes, berdasarkan laporan Kemenkes per 27 Agustus 2026, Karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Jumlah penduduk yang terdampak mencapai lebih dari 10 juta orang.
Dampak kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. Hingga 27 Agustus 2026, tercatat 4.082 kasus ISPA dalam satu hari, dengan jumlah kumulatif mencapai 13.449 kasus yang tersebar di 63 kabupaten dan kota.
Selain ISPA, paparan asap Karhutla juga dapat menyebabkan batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK, serta iritasi pada mata dan kulit.
Kelompok yang paling rentan terhadap dampak asap adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah juga cukup mengkhawatirkan.
Pontianak, Kalimantan Barat, tercatat memiliki nilai Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU sebesar 328 yang masuk kategori berbahaya. Sementara itu, Kabupaten Tebo di Jambi mencapai 287 dan beberapa wilayah lainnya berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Untuk menangani kondisi tersebut, pemerintah telah mengerahkan ratusan tenaga kesehatan ke wilayah terdampak. Hingga 27 Agustus 2026, sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi. Pemerintah juga menyediakan masker, oksigen, alat pelindung diri, serta berbagai perlengkapan kesehatan lainnya.
Di Provinsi Riau, dampak Karhutla telah meluas ke 12 kabupaten dan kota. Tercatat sekitar 3.293 kasus ISPA, dengan jumlah kasus tertinggi berada di Kota Pekanbaru, Pelalawan, dan Kampar.
Dinas Kesehatan Riau juga telah mengaktifkan tim medis darurat di 244 Puskesmas dan menyiagakan dukungan oksigen. Selain itu, sekitar 69 ribu masker telah dibagikan kepada masyarakat terdampak, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, dan balita.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk terus memantau kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata, menjaga tubuh tetap terhidrasi, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Masyarakat yang mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata juga diimbau segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemerintah bersama Kementerian Kesehatan akan terus memantau kualitas udara, melakukan pengawasan terhadap penyakit, memperkuat pelayanan kesehatan, serta memastikan ketersediaan obat, masker, oksigen, dan berbagai kebutuhan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terdampak Karhutla. (R)