Bogor (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan gigi berlubang atau karies menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah.
Dilansir dari laman Humas Polri, hingga Agustus 2026, program tersebut telah melayani 15,2 juta siswa dari total target 50 juta anak sekolah di seluruh Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono mengatakan, CKG Anak Sekolah tidak hanya ditujukan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mendeteksi dan menangani berbagai persoalan kesehatan sejak dini.
Hal itu disampaikan Dante saat meninjau pelaksanaan CKG Anak Sekolah di SMPN 5 Kota Bogor, Jawa Barat, pada 28 Agustus 2026.
Peninjauan tersebut dilakukan bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan.
"Edukasi memang penting, tetapi aspek kesehatan merupakan bekal utama bagi mereka untuk bertumbuh dengan baik dan menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang unggul," kata Dante.
Ia menegaskan, berbagai temuan dari pemeriksaan CKG harus ditindaklanjuti melalui kolaborasi lintas sektor sehingga masalah kesehatan yang ditemukan pada siswa tidak berhenti sebatas pemeriksaan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan secara nasional, karies gigi menjadi temuan tertinggi dengan angka mencapai 40,9 persen. Selain itu, ditemukan pula anemia pada remaja putri, peningkatan tekanan darah, serta serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga.
Kondisi serupa juga terlihat di Kota Bogor. Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat angka karies gigi pada siswa mencapai 48,79 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan, cakupan pelaksanaan CKG di wilayahnya telah mencapai 49,62 persen. Untuk memperluas jangkauan pemeriksaan, pihaknya mengembangkan inovasi CKG Smart.
"Di Bogor angka karies mencapai 48,79 persen. Untuk merespons temuan ini dan tantangan akses, kami menginisiasi inovasi CKG Smart yang mobile dan responsif untuk memberikan terapi awal terintegrasi langsung ke sekolah-sekolah," ujar Erna.
Selain masalah kesehatan gigi,
Kemenkes juga menemukan adanya beban ganda masalah gizi pada anak sekolah. Kasus gizi kurang masih ditemukan, sementara prevalensi gizi lebih atau obesitas pada anak sekolah secara nasional mencapai 7,2 persen.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes mengintegrasikan CKG dengan intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Upaya tersebut mencakup kesehatan sebelum kehamilan, kesehatan selama masa kehamilan hingga bayi lahir, kesehatan bayi di bawah dua tahun, serta penguatan fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurut
Kemenkes, pemeriksaan kesehatan pada siswa SMP dan SMA menjadi momentum penting untuk melakukan intervensi kesehatan sejak remaja, terutama sebelum mereka memasuki fase kehamilan dan menjadi orang tua.
Sementara itu, Wamendikdasmen Fajar Riza menilai kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membentuk pola pikir dan budaya hidup sehat di kalangan peserta didik sejak dini.