Jakarta (buseronline.com) - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak dipastikan tidak berhenti pada pemeriksaan awal.
Dilansir dari laman Kemkes, pemerintah menegaskan setiap temuan masalah kesehatan anak, mulai dari karies gigi, anemia,
tuberkulosis (TB), hingga gangguan kesehatan mental, harus mendapatkan tindak lanjut agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Penegasan itu disampaikan dalam diskusi publik bertajuk "Setahun Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Anak, Apa Selanjutnya?" yang digelar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Forum Risk Communication and Community Engagement (RCCE), Wahana Visi Indonesia (WVI), Inke Maris & Associates, serta Reconstra di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis.
Berdasarkan evaluasi pelaksanaan CKG sejak Februari 2025 hingga Februari 2026, tercatat 23,5 juta anak telah mengikuti pemeriksaan kesehatan. Namun, pemerintah masih menemukan kesenjangan antara tingginya jumlah anak yang diperiksa dan rendahnya tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah risiko TB pada balita. Data CKG mencatat sekitar 95 persen balita yang berisiko TB belum menjalani tes konfirmasi. Selain itu, ditemukan pula persoalan anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan kesehatan mental, serta tingginya kasus karies gigi pada anak.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyoroti secara khusus persoalan kesehatan gigi. Ia meminta puskesmas tidak hanya memiliki fasilitas pemeriksaan, tetapi juga mampu memberikan perawatan terhadap masalah gigi yang ditemukan melalui CKG.
"Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. Tiga puluh sampai empat puluh persen giginya bermasalah. Nomor satu karies, nomor dua masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi," ujar Budi.
Menurut Budi, pemeriksaan kesehatan harus menjadi pintu masuk menuju pelayanan dan pengobatan. Karena itu, fasilitas kesehatan perlu diperkuat agar mampu menangani berbagai temuan yang muncul dari program CKG.
Tidak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental remaja juga menjadi perhatian pemerintah. Anak usia SMP dan SMA yang terindikasi mengalami kecemasan maupun depresi perlu segera mendapatkan pendampingan dan layanan konseling.
Layanan tersebut dapat dilakukan melalui platform telemedisin maupun dengan memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.
Sementara itu, perwakilan Forum Anak menekankan pentingnya keterbukaan hasil pemeriksaan kepada anak dan orang tua. Hasbi, salah seorang siswa yang mengikuti CKG di sekolahnya, mengaku belum menerima hasil pemeriksaan secara lengkap.
"Di sana kita periksa tinggi badan, berat badan, tekanan darah, sampai ambil darah untuk tes Hb (Hemoglobin/Sel Darah Merah). Tapi hasilnya tidak dikasih tahu apa saja," kata Hasbi.
Kurangnya edukasi dan lambatnya rujukan juga dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan anak. Hasbi bahkan harus menjalani pencabutan gigi pada usia 15 tahun karena masalah giginya terlambat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi mendukung pelibatan anak secara aktif dalam program CKG. Ia menegaskan hasil pemeriksaan tidak boleh hanya menjadi data yang tersimpan dalam sistem pemerintah.