Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperluas upaya penemuan kasus tuberkulosis (TB) secara aktif dengan memanfaatkan teknologi rontgen dada berbasis Artificial Intelligence (AI).
Dilansir dari laman Kemkes, program ini menyasar pondok pesantren dan permukiman padat penduduk yang memiliki risiko penularan TB lebih tinggi.
Perluasan skrining ditandai dengan Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis dan Rontgen Dada serta Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pesantren dan Permukiman Padat Penduduk yang digelar di Pondok Pesantren Yayasan Khairul Ummah Syahroni, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penemuan kasus TB sejak dini menjadi salah satu kunci untuk menekan penularan dan kematian akibat penyakit tersebut. "Masalahnya adalah enggak ketahuan kalau dia sakit TB, karena skrining-nya terlambat atau tidak dilakukan," ujar Budi.
Menurutnya, TB sebenarnya dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Namun, persoalan utama yang masih dihadapi adalah banyak kasus yang belum terdeteksi sehingga penderita terlambat mendapatkan pengobatan.
Kemajuan teknologi, kata Budi, kini memungkinkan skrining dilakukan lebih mudah dan langsung menjangkau masyarakat. Perangkat rontgen dada yang sebelumnya berukuran besar dan umumnya tersedia di rumah sakit kini telah tersedia dalam bentuk lebih ringkas dan portabel.
"Sekarang teknologi baru, alatnya kecil bisa digendong, dibawa pakai motor. Dengan demikian, kita bisa melakukan skrining ke masyarakat, tidak harus menunggu mereka datang ke rumah sakit," katanya.
Hasil pemeriksaan rontgen juga dapat dibantu teknologi AI untuk mengidentifikasi indikasi TB. Dengan demikian, proses pemeriksaan diharapkan berlangsung lebih cepat dan efisien.
Untuk memperluas akses layanan, Kemenkes menyiapkan sekitar 10.000 unit rontgen yang akan didistribusikan secara bertahap ke Puskesmas. Peralatan tersebut akan digunakan untuk mendekatkan layanan skrining kepada masyarakat sekaligus mendukung pelaksanaan CKG.
Pesantren menjadi salah satu sasaran utama skrining karena kepadatan hunian dapat meningkatkan risiko penularan TB. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila terdapat penderita TB yang belum terdeteksi dan belum mendapatkan pengobatan.
Budi mengungkapkan, skrining TB secara umum rata-rata menemukan sekitar 0,3 persen kasus. Sementara skrining yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan menemukan sekitar 3 persen kasus atau sekitar 10 kali lebih tinggi. "Jadi saya pikir, ini harus di-skrining di pesantren," kata Budi.
Kemenkes bersama Kementerian Agama (Kemenag) akan memperluas skrining TB ke pesantren di seluruh Indonesia. "Kita akan masuk ke seluruh pondok pesantren di Indonesia agar bisa di-skrining TB sehingga semua santrinya sehat," tegasnya.
Budi juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada penderita TB. Menurutnya, TB dapat disembuhkan apabila ditemukan lebih awal dan penderita menjalani pengobatan sesuai ketentuan.
"Kalau ketemu TB enggak usah khawatir, enggak usah takut, enggak usah jadi stigma, enggak usah malu. Penyakit ini bisa disembuhkan," ujarnya.