Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau masyarakat agar mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara rutin setiap tahun, meski merasa dalam kondisi sehat.
Dilansir dari laman Kemkes, imbauan tersebut disampaikan menyusul ditemukannya sekitar satu juta kasus baru hipertensi pada peserta CKG yang sebelumnya dinyatakan sehat.
Temuan itu terungkap dalam Media Briefing Evaluasi, Capaian, dan Langkah Strategis Program Cek Kesehatan Gratis yang digelar di Kantor Kemenkes, Jakarta, Selasa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan ulang terhadap 9,2 juta peserta CKG pada tahun 2026, sekitar satu juta orang terdeteksi mengalami hipertensi, padahal pada pemeriksaan tahun sebelumnya mereka tidak menunjukkan tanda-tanda tekanan darah tinggi.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini sebelum berkembang menjadi komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, maupun gagal ginjal.
"Melalui
Cek Kesehatan Gratis, kita berharap penyakit dapat ditemukan lebih cepat sehingga segera ditangani. Jangan menunggu sampai muncul keluhan atau komplikasi," ujar Budi.
Menurutnya, sebagian besar penyakit tidak menular, termasuk hipertensi dan diabetes, tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga sering kali baru diketahui ketika sudah menimbulkan komplikasi.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menegaskan bahwa kondisi kesehatan seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, hasil pemeriksaan yang baik pada tahun sebelumnya bukan jaminan seseorang tetap sehat pada tahun berikutnya.
"Pesannya sederhana, lakukan Cek Kesehatan Gratis setiap tahun. Hasil pemeriksaan yang baik pada tahun lalu bukan berarti kondisi kesehatan kita tetap sama pada tahun ini," katanya.
Data
Kemenkes juga menunjukkan bahwa dari 1,3 juta peserta yang sebelumnya berstatus prehipertensi dan menjalani pemeriksaan ulang, sebanyak 247 ribu orang kini telah mengalami hipertensi.
Sementara itu, dari 8,3 juta peserta yang diperiksa ulang, sebanyak 188 ribu orang terdeteksi menderita diabetes baru dan 16 ribu peserta dengan status prediabetes berkembang menjadi diabetes.