Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemko) Bandung resmi meluncurkan program Bandung Utama Goes to Zero New Stunting sebagai upaya mempercepat penurunan angka stunting di Kota Bandung.
Dilansir dari laman Jabarprov, program tersebut diluncurkan di Yess Coffee, Kota Bandung, Rabu, dan dipimpin langsung oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Farhan menegaskan, persoalan stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi, melainkan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti sanitasi, kualitas lingkungan, dan pola hidup masyarakat.
"
Stunting bukan hanya masalah ASI atau pemberian makanan tambahan. Ini persoalan yang sangat sistemik. Kalau kita ingin menurunkan angka stunting, maka yang harus kita benahi bukan hanya gizinya, tetapi juga lingkungan, sanitasi, kualitas air, dan seluruh faktor yang memengaruhinya," ujar Farhan.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kota Bandung masih mencapai 22,8 persen atau berada di atas target nasional sebesar 16 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemkot Bandung untuk melakukan percepatan penanganan secara terpadu.
Menurut Farhan, Kota Bandung tidak mengalami persoalan dalam pasokan pangan karena kebutuhan bahan makanan dipenuhi dari sedikitnya 16 provinsi di Indonesia. Oleh karena itu, ia menilai tingginya angka stunting dipengaruhi faktor lain yang harus segera dibenahi.
Ia menyoroti masih buruknya kualitas udara, kondisi sanitasi yang belum memadai, serta kualitas sumber air yang perlu ditingkatkan. Berdasarkan data kewilayahan, sekitar 27 persen rumah di Kota Bandung belum memiliki septic tank yang layak dan masih berpotensi melakukan buang air besar sembarangan (BABS).
Untuk mendukung percepatan penurunan stunting, Farhan meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), camat, dan lurah melakukan pemetaan persoalan di wilayah masing-masing agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.
Selain itu, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) diminta mengoptimalkan Dapur Dahshat di setiap kelurahan sebagai pusat pengolahan makanan bergizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang mengalami kekurangan gizi.