Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus melakukan transformasi layanan kanker guna menekan tingginya angka kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia.
Dilansir dari laman Kemkes, salah satu langkah yang dilakukan adalah mendistribusikan alat deteksi dini berteknologi canggih hingga tingkat Puskesmas dan mempercepat pemenuhan dokter spesialis onkologi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebagian besar kematian akibat kanker di Indonesia disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Menurutnya, lebih dari 80 persen pasien kanker baru terdiagnosis ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut, yakni stadium tiga atau empat.
"Kunci utama penanggulangan
kanker adalah deteksi cepat dan pengobatan cepat. Jika diketahui pada stadium satu, peluang kesembuhan dengan teknologi yang ada saat ini sangat tinggi," ujar Budi dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 di Jakarta, Minggu.
Berdasarkan data GLOBOCAN, Indonesia mencatat 408.661 kasus baru kanker dengan 242.988 kematian setiap tahun. Kanker menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga secara nasional. Pada perempuan, kasus didominasi kanker payudara dan kanker serviks, sedangkan pada laki-laki didominasi kanker paru dan kanker kolorektal.
Untuk meningkatkan deteksi dini,
Kemenkes telah melengkapi 10.000 Puskesmas dengan mesin X-ray digital dan alat ultrasonografi (USG) berbasis kecerdasan buatan (AI). Peralatan tersebut digunakan untuk membantu mendeteksi
kanker paru dan benjolan pada payudara.
Selain itu, layanan tes HPV DNA untuk mendeteksi virus penyebab kanker serviks juga mulai disiapkan di fasilitas kesehatan primer. Di tingkat rujukan, sebanyak 514 kabupaten/kota akan dilengkapi layanan CT scan guna mendukung penegakan diagnosis lanjutan.
Kemenkes juga menargetkan pengadaan 60 alat PET scan pada 2028, memperluas layanan kemoterapi di 500 kabupaten/kota, serta membangun fasilitas terapi proton pertama di RS Kanker Dharmais.