Pekalongan (buseronline.com) - Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin mengajak para orang tua dan guru untuk lebih memperhatikan kesehatan mental anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari.
Ajakan tersebut disampaikan Nawal saat menjadi narasumber dalam kegiatan parenting di TK Ma'had Islam, Kota Pekalongan, Senin. Menurutnya, disrupsi teknologi telah mengubah cara anak-anak tumbuh dan belajar, sehingga turut memengaruhi pola pikir serta karakter generasi muda.
Nawal menilai kemudahan teknologi yang memungkinkan berbagai kebutuhan terpenuhi secara instan berpotensi mengurangi daya juang dan ketangguhan anak apabila tidak diimbangi dengan pola pengasuhan yang tepat.
"Sehingga pada saat ini kesehatan mental pada anak-anak itu semakin menurun. Anak-anak mendapatkan semuanya secara instan," ujarnya dilansir dari laman Jatengprov.
Ia menjelaskan, anak-anak masa kini terbiasa memperoleh berbagai kebutuhan dengan cepat hanya melalui gawai. Kondisi tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus melalui proses dan perjuangan lebih panjang untuk mencapai sesuatu.
"Mau beli bakso tinggal klik, mau apa tinggal klik. Semua ada di genggaman. Kita mungkin dulu masih harus effort luar biasa untuk meraih suatu hal. Sehingga ini menjadi pemicu besar adanya kesehatan mental Gen Z ini yang menjadi rapuh," katanya.
Karena itu, Nawal menegaskan bahwa penguatan karakter dan kesehatan mental anak harus menjadi perhatian bersama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar.
"Sehingga ini yang menjadi concern saya, bagaimana ayo kita bersama-sama menjawab isu-isu untuk penguatan generasi kita ke depannya," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nawal juga menyoroti pentingnya penerapan disiplin positif dalam pengasuhan anak. Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar memiliki ekspektasi terlalu tinggi terhadap anak sehingga memicu tekanan psikologis sejak usia dini.
Ia mencontohkan, banyak orang tua yang membandingkan perkembangan anaknya dengan anak lain, lalu memaksa anak mencapai kemampuan tertentu meski belum sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya.
"Anak ini sebenarnya belum waktunya untuk bisa membaca, menulis. Tetapi karena hanya melihat temannya sudah bisa membaca, sudah bisa menulis, kemudian ke-trigger di diri kita untuk menekan anak bisa mengikuti itu," jelasnya.
Menurut Nawal, ekspektasi yang berlebihan dapat membuat orang tua lebih mudah meluapkan emosi ketika anak belum memenuhi harapan. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan tekanan mental dan menghambat perkembangan anak.
"Akhirnya ekspektasi tinggi ini mengakibatkan kita sering melampiaskan ini dengan emosi. Emosi-emosi untuk ayo cepat belajar. Kalau tidak bisa-bisa ya menjadi emosi sendiri, yang kemudian anak ini menjadi tertekan," ungkapnya.
Untuk itu, ia mengingatkan pentingnya memahami tahapan perkembangan anak sesuai usia. Pada usia 0-6 tahun, anak membutuhkan layanan dan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Selanjutnya pada usia 6-10 tahun diperlukan pembiasaan disiplin yang konsisten, sedangkan pada usia 11-15 tahun orang tua lebih berperan sebagai pendamping dan sahabat bagi anak.
Melalui pola pengasuhan yang tepat, Nawal berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh, sehat secara mental, serta siap menghadapi berbagai tantangan dan perubahan zaman. (R)