Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Kenvue Indonesia, dan Guardian Indonesia meluncurkan Kampanye #SehatTanpaRokok dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026.
Dilansir dari laman Kemkes, peluncuran kampanye yang digelar di JW Marriott Hotel Jakarta, Rabu, tersebut bertujuan memperkuat upaya pencegahan me
rokok sejak dini melalui edukasi kesehatan yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja.
Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin P Octavianus menegaskan bahwa pengendalian tembakau harus difokuskan pada upaya pencegahan, terutama pada kelompok usia muda yang rentan mulai merokok.
Menurutnya, edukasi mengenai bahaya
rokok perlu dilakukan secara masif di lingkungan sekolah. "Kalau kita tahu usianya 14 tahun mulai me
rokok, maka gerakan ini harus dimulai di SMP secara masif," ujar Benjamin.
Ia menilai edukasi kesehatan harus disampaikan secara ilmiah agar anak-anak dan remaja memahami dampak merokok terhadap tubuh dan berbagai organ vital sejak dini.
"Kita perlu lebih banyak mengedukasi masyarakat secara ilmiah mengenai dampak me
rokok terhadap tubuh. Orang dididik untuk mengerti dampak fisiologis daripada me
rokok terhadap paru dan organ tubuh lainnya," katanya.
Benjamin juga menyoroti tren penggunaan rokok elektronik dan vape yang semakin meningkat di kalangan anak muda. Ia menegaskan bahwa produk tersebut tidak lebih aman dibandingkan rokok konvensional karena tetap mengandung nikotin dan aerosol yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.
"Kerusakannya sama dengan me
rokok, enggak ada bedanya. Dampaknya terhadap kerusakan paru maka fungsi paru kita pasti akan menurun," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Benjamin mengajak generasi muda menjadikan kesehatan sebagai modal utama menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, pemahaman yang baik mengenai risiko merokok akan mendorong anak-anak dan remaja untuk mengambil keputusan hidup yang lebih sehat.
Pemerintah, lanjutnya, saat ini juga tengah menyelesaikan berbagai regulasi yang bertujuan mengurangi daya tarik produk tembakau, terutama bagi anak dan remaja. Namun, upaya pengendalian tembakau tidak dapat hanya mengandalkan regulasi, melainkan juga membutuhkan edukasi, promosi kesehatan, dan kolaborasi berbagai pihak.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, mengatakan bahwa penurunan prevalensi perokok memerlukan berbagai pendekatan yang saling melengkapi.
"Untuk menghentikan
rokok itu sangat banyak caranya. Salah satunya ada produk pengganti. Tentunya ada juga kawasan bebas
rokok, kemudian juga adanya edukasi," ujarnya.
William menyebut BPOM mendukung pengembangan inovasi berbasis bukti ilmiah yang dapat membantu masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk berhenti merokok. Menurutnya, perluasan akses terhadap terapi pengganti nikotin yang aman dan berbasis bukti dapat menjadi salah satu solusi dalam pengendalian tembakau.
Ketua Umum PDPI Arief Riadi Arifin menambahkan bahwa pencegahan pada kelompok usia muda merupakan langkah paling efektif untuk menekan jumlah pe
rokok baru di Indonesia.
Ia menekankan bahwa edukasi kesehatan berbasis sains perlu diperkuat secara masif di sekolah dan lingkungan pendidikan. "Kalau sudah merokok, sudah adiksi puluhan tahun, untuk stop itu tidak mudah," kata Arief.
Kampanye #SehatTanpaRokok mengusung semangat kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya tembakau dan nikotin, sekaligus memperluas akses terhadap dukungan berhenti me
rokok.
Melalui keterlibatan pemerintah, organisasi profesi, sektor swasta, tenaga kesehatan, akademisi, dan media, diharapkan semakin banyak masyarakat Indonesia yang terdorong menjalani hidup sehat tanpa rokok. (R)