Medan (buseronline.com) - Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan keberadaan 255 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Medan akan memberikan efek berganda terhadap masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak, pengentasan kemiskinan hingga peningkatan ekonomi pelaku UMKM lokal.
Hal tersebut disampaikan
Rico Waas saat membuka High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengenai Kemitraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (
SPPG) dan Pelaku Usaha Potensial di Kota Medan di Gedung PKK Kota Medan, Jumat.
Menurut Rico Waas, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya tentang penyediaan makanan sehat bagi anak sekolah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui ekosistem SPPG yang melibatkan masyarakat sekitar.
"Kita ingin anak-anak kita sehat dan mendapatkan gizi yang standar serta merata. Namun jangan lupa, pembangunan gizi ini ada dapurnya. Dapur ini belinya ke para pelaku yang ada di sekitar dapur. Di sinilah ekosistem ekonomi lokal kita bangun," ujar
Rico Waas.
Ia menjelaskan, program MBG di Kota Medan ditargetkan dapat menjangkau sekitar 700 ribu anak di 21 kecamatan. Untuk mendukung program tersebut, sebanyak 255 SPPG direncanakan berdiri di Kota Medan dan saat ini 235 di antaranya telah aktif beroperasi.
"Di Kota Medan ditargetkan berdiri 255
SPPG untuk melayani sekitar 700.000 anak. Alhamdulillah saat ini sudah aktif 235
SPPG," katanya.
Selain meningkatkan kualitas gizi anak, Rico Waas mengatakan setiap SPPG juga diproyeksikan mampu menyerap 47 hingga 50 tenaga kerja lokal, khususnya masyarakat rentan dalam kategori Desil 1 dan Desil 2.
Ia berharap tenaga kerja yang direkrut berasal dari masyarakat sekitar dapur
SPPG agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga.
"Harapan kami, mohon ini menjadi perhatian bersama agar yang dipekerjakan adalah masyarakat di sekitar dapur SPPG tersebut. Dari yang tadinya tidak punya pekerjaan, sekarang punya penghasilan tetap," tegasnya.
Rico Waas juga mendorong agar kebutuhan bahan baku
SPPG dipasok dari pelaku usaha lokal, seperti pedagang pasar, peternak, petani urban farming hingga pengrajin di sekitar wilayah dapur.
Menurutnya, kebutuhan pangan program MBG sangat besar setiap minggunya. Untuk kebutuhan beras saja mencapai 183 ton per minggu, sementara daging ayam mencapai 21 ton per minggu.
"Yang cukup tinggi itu tempe dan tahu. Saya ingin berikan mereka akses untuk menyuplai
SPPG. Kita ingin mendengar para pedagang kecil di pasar tersenyum dan berkata, 'Setiap hari ada yang membeli'," ucapnya.