Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Curah Hujan Ekstrem dan Kondisi Lereng Picu Banjir-Longsor di Gunung Slamet

Agie HT Bukit SH - Jumat, 30 Januari 2026 01:30 WIB
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto memberikan keterangan terkait penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet akibat curah hujan ekstrem dan kondisi alam, di Semarang, Rabu (28/1/2026). (Dok/Jateng
Semarang (buseronline.com) - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, meliputi Kabupaten Pemalang, Tegal, dan Purbalingga, dipicu oleh kombinasi curah hujan ekstrem dan kondisi alam kawasan tersebut.Dilansir dari laman Jatengprov, faktor kelerengan yang curam, kerapatan aliran sub-Daerah Aliran Sungai (DAS), serta jenis tanah latosol menjadi penyebab utama terjadinya longsor.Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, mengatakan hujan ekstrem dengan durasi panjang terjadi pada 23-24 Januari 2026. Curah hujan di wilayah hulu Gunung Slamet tercatat mencapai 100-150 milimeter per hari.“Curah hujan normal idealnya sekitar 50 milimeter per hari. Ketika hujan jauh di atas itu, debit air meningkat drastis dan memicu banjir,” kata Widi, Rabu.Menurutnya, wilayah Kecamatan Pulosari dan Moga, Kabupaten Pemalang, berada di Sub-DAS Penakir yang merupakan bagian dari hulu Sub-DAS Gintung.Kawasan ini didominasi kemiringan lereng agak curam hingga sangat curam, mencapai sekitar 64 persen, sehingga meningkatkan kecepatan limpasan permukaan dan daya kikis aliran air.Kondisi tersebut menyebabkan kawasan hulu hingga tengah Sub-DAS Penakir rentan mengalami erosi dan longsor. Dampak lanjutan berupa peningkatan muatan sedimen yang berpotensi menyebabkan pendangkalan sungai di wilayah hilir.Widi mencatat, sejak 2022 telah banyak titik longsoran terjadi di lereng Gunung Slamet. Selain topografi, karakteristik tanah juga berperan besar.Tanah latosol yang mendominasi kawasan tersebut bersifat gembur dan mudah jenuh air, sehingga rawan tererosi dan longsor saat hujan lebat.Widi menegaskan, bencana banjir dan longsor tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas pertambangan. Lokasi tambang berada di bagian kaki gunung dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik longsor.Hal senada disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto. Ia memastikan tidak ada aktivitas tambang di tubuh Gunung Slamet.“Tidak ada pertambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet. Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor,” tegas Agus.Dalam upaya mitigasi, Pemprov Jawa Tengah terus melakukan rehabilitasi hutan dan lahan melalui reboisasi dan penghijauan, serta menyampaikan informasi potensi gerakan tanah secara rutin kepada pemerintah kabupaten/kota.Selain itu, pemerintah juga mengusulkan penguatan status kawasan hutan Gunung Slamet agar mendapat perlindungan lebih optimal.Sementara itu, penanganan darurat terus dilakukan dengan mengevakuasi warga terdampak, mendirikan posko logistik dan dapur umum, membuka layanan kesehatan, serta membersihkan material longsor dan melakukan asesmen kerusakan infrastruktur. (R)

Editor
: Agie HT Bukit SH
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Hukum & Peristiwa

Revitalisasi Sekolah di Tapanuli Utara, SDN 173281 Lumban Julu Kini Lebih Nyaman

Hukum & Peristiwa

KPK Perluas Pembelajaran Antikorupsi bagi ASN, Sasar 6,8 Juta Pegawai hingga 2029

Hukum & Peristiwa

Bermain Angklung, Anak-anak TK IT Mekar Insani Belajar Kerja Sama dan Toleransi

Hukum & Peristiwa

Bobby Nasution Percepat Perbaikan Jalan Labusel-Rintis-Ujung Padang-Salingsing, Anggaran Rp21,2 Miliar

Hukum & Peristiwa

Bunda Literasi Dorong Peningkatan Budaya Baca, SDN Wonorejo 03 Diusulkan Miliki Perpustakaan pada 2027

Hukum & Peristiwa

Menkes Imbau Masyarakat Batasi Aktivitas di Luar Rumah Selama Kabut Asap