Bengkulu (buseronline.com) - Densus 88 Anti Teror (AT) Polri melalui Direktorat Pencegahan bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bengkulu menggelar Seminar Nasional Kolaboratif Agama dan Radikalisme bertema “Sinergi dalam Menangkal Ideologi Radikal di Era Digital”, Kamis.Dilansir dari laman Humas Polri, kegiatan yang berlangsung di kampus UIN Fatmawati Sukarno tersebut dihadiri sekitar 250 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan perwakilan instansi pemerintahan.Seminar ini menghadirkan narasumber utama Dr M Najih Arromadhoini MAg yang memaparkan fenomena global terorisme sebagai ancaman lintas agama dan menjelaskan perkembangan tren radikalisme sejak tahun 1960-an.Dalam materinya, Dr Najih menegaskan bahwa radikalisme dapat muncul pada semua agama dan bukan hanya persoalan satu kelompok tertentu. Ia juga menyoroti keberadaan jaringan radikal yang memiliki afiliasi di Indonesia, seperti Al-Qaeda dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).“Radikalisme muncul karena pemahaman agama yang sempit dan ketidakseimbangan wawasan kebangsaan. Karena itu, penting bagi kita untuk memperkuat dua hal tersebut agar tidak mudah terpengaruh ideologi ekstrem,” ujar Dr Najih.Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta seputar cara membedakan ajaran yang bersifat radikal di media sosial, pentingnya pemahaman ideologi yang benar, serta alasan munculnya berbagai golongan dalam Islam.Direktorat Pencegahan Densus 88 berharap kegiatan semacam ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam menyaring informasi dan tidak mudah terpapar paham radikalisme di era digital yang serba cepat dan terbuka.Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan aparat keamanan dapat menjadi langkah nyata dalam menangkal penyebaran ideologi radikal di wilayah Bengkulu dan sekitarnya. (R)