Kupang (buseronline.com) - Dalam upaya memperkuat strategi kontra radikalisasi di tengah masyarakat, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melalui Divisi Humas bekerja sama dengan Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Teroris Musuh Kita Bersama” Selasa pagi, bertempat di Aula Bijaksana Polresta Kupang Kota.Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kapolresta Kupang Kota Kombes Pol Djoko Lestari SIK MM dan dilanjutkan dengan sambutan utama dari Kabag Disindig Divhumas Polri, Kombes Pol Rahmanto Sujudi SIK, yang hadir mewakili Divisi Humas Polri.Dalam sambutannya, Kombes Pol Rahmanto menekankan bahwa penanggulangan paham radikal tidak dapat dilakukan hanya oleh aparat keamanan, melainkan memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.“Polisi tidak boleh hanya dilihat sebagai alat penegak hukum. Polri harus membaur, menjadi sahabat masyarakat, menjadi bagian dari solusi, dan memastikan ruang sosial kita tidak direbut oleh paham kekerasan,” ungkapnya.Ia juga menyoroti pentingnya penguatan ketahanan ideologi di masyarakat melalui pendekatan edukatif, spiritual, budaya, dan komunikasi publik yang efektif sebagai benteng terhadap pengaruh radikalisme.Turut hadir sebagai narasumber utama, akademisi Universitas Nusa Cendana Kupang Dr Simplexius Asa SH MH, yang menekankan pentingnya pelibatan masyarakat sipil secara sistemik dan kolektif dalam menangkal ideologi radikal.“Keamanan ideologis bangsa tidak bisa hanya dibebankan kepada negara. Ini harus menjadi kesadaran dan gerakan publik yang masif,” tegasnya.Kegiatan FGD ini diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai kalangan, antara lain anggota Polri, mahasiswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintahan.Diskusi berlangsung aktif, dengan sejumlah topik utama seperti upaya menangkal radikalisme di lingkungan kampus, media sosial, dan komunitas lokal.Peran Polri dalam kontra radikalisasi disampaikan secara komprehensif, mulai dari pencegahan, deteksi dini, peningkatan kepercayaan publik melalui pendekatan humanis, pemanfaatan intelijen sosial, kerja sama lintas sektor, hingga penegakan hukum yang terukur dan adil.Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra SIK MH yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa pendekatan lunak Polri sangat penting dalam menciptakan ruang publik yang bebas dari paham kekerasan.“Kita ingin masyarakat melihat bahwa Polri bukan hanya hadir saat konflik terjadi, tetapi juga hadir di masa tenang untuk mendengar, mengedukasi, dan mencegah,” ujarnya.Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Polri dalam membangun narasi kebangsaan dan menciptakan sinergi nasional untuk menjaga keutuhan serta keamanan bangsa dari ancaman ideologi ekstrem. (R)