Jakarta (buseronline.com) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengawal pembenahan tata kelola PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) setelah melakukan penindakan perkara korupsi di lingkungan perusahaan tersebut.
Dilansir dari laman
KPK, melalui Direktorat Anti
korupsi Badan Usaha (AKBU),
KPK tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga melakukan pemetaan risiko, memberikan rekomendasi perbaikan, serta memantau penerapan perbaikan sistem untuk mencegah terulangnya praktik
korupsi.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, pendekatan penindakan dan pencegahan harus berjalan beriringan agar celah yang berpotensi dimanfaatkan untuk melakukan penyimpangan dapat ditutup secara menyeluruh.
"Pascapenindakan, kami tidak hanya melihat persoalan dari sisi penegakan hukum, tetapi juga melakukan identifikasi risiko, memberikan rekomendasi perbaikan, serta memantau tindak lanjut perbaikannya," ujar Budi di Jakarta, pada 3 September 2026.
Menurut Budi, sinergi KPK dan ASDP telah berlangsung sejak 2025 hingga 2026. Pada 2025, KPK melakukan pemetaan risiko terhadap tiga aspek utama, yakni pengadaan kapal baru, pengelolaan armada (ship management), dan integrasi manifest penumpang.
Memasuki 2026,
KPK melakukan monitoring untuk memastikan rekomendasi yang telah diberikan benar-benar diterapkan dalam bentuk pembenahan sistem. Pada sektor pengadaan kapal,
KPK mendorong ASDP memperkuat regulasi internal agar proses pengadaan berjalan lebih transparan dan akuntabel.
ASDP kemudian mengonsolidasikan ketentuan pengadaan kapal baru, kapal bukan baru, serta skema financial lease dalam satu Keputusan Direksi terpadu dengan pendampingan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Regulasi tersebut kini berada dalam proses penandatanganan Direksi, dengan sejumlah catatan penajaman dari
KPK.
Sementara itu, dalam pengelolaan armada, ASDP membentuk Ship Life Cycle Policy, melaksanakan Condition Assessment Program bersama Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) terhadap 160 kapal, serta mengembangkan ASDP Maintenance System (AMS).
Untuk integrasi manifest penumpang,
KPK mendorong penguatan validasi data antara sistem Ferizy dan Inaportnet. Saat ini proses tersebut memasuki tahap penandatanganan Nota Kesepahaman kerahasiaan antara Kementerian Perhubungan dan ASDP serta uji coba di Pelabuhan Penyeberangan Tanjung Uban.
Budi menegaskan, integrasi data manifest menjadi hal penting karena tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga menyangkut keselamatan dan perlindungan masyarakat pengguna jasa penyeberangan.
"Kami terus mengawal proses integrasi data manifest ini. Pasalnya, integritas data manifest tidak hanya berkaitan dengan tata kelola administrasi, tetapi berhubungan langsung dengan keselamatan dan perlindungan masyarakat pengguna jasa penyeberangan," tegasnya.
Pada Agustus 2026, Direktorat AKBU KPK juga melakukan field review di tiga wilayah, yakni Ketapang-Banyuwangi, Surabaya, dan Bitung, Sulawesi Utara.