Jakarta (buseronline.com) - Polri memperkuat kesiapan personel, sarana, dan prasarana guna menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat seiring fenomena El Nino dan puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026.
Dilansir dari laman Humas
Polri, komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan
Karhutla yang dipimpin Wakapolri Komjen Pol Prof Dr Dedi Prasetyo di Ruang Pusdalsis Stamaops
Polri, Gedung Utama Mabes
Polri, Jakarta, Kamis.
Rapat diikuti pejabat utama Mabes Polri, para kapolda secara virtual, serta perwakilan Kementerian Kehutanan, BNPB, BMKG, Basarnas, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Kadiv Humas
Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir mengatakan, arahan Wakapolri menitikberatkan pada penguatan langkah-langkah pencegahan melalui kesiapan personel, patroli terpadu, sistem peringatan dini, pemantauan titik panas, serta koordinasi lintas instansi.
"Seluruh jajaran harus memastikan kesiapan personel dan sarana pendukung dalam menghadapi ancaman karhutla. Upaya pencegahan harus dilakukan secara maksimal melalui patroli terpadu, sistem peringatan dini, pemantauan titik panas, serta penguatan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan," ujar Johnny.
Dalam rapat tersebut dipaparkan,
Polri telah melaksanakan 151 apel kesiapsiagaan, 29 rapat siaga tingkat polda, 180 kegiatan kesiapan lapangan, serta 2.850 kegiatan sosialisasi pencegahan yang melibatkan personel Bhabinkamtibmas dan Babinsa di berbagai daerah.
Selain itu, sebanyak 168.500 patroli darat dan perairan telah digelar bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, hingga masyarakat. Patroli tersebut didukung pemanfaatan drone untuk mendeteksi dan memetakan titik api secara cepat dan akurat.
Dari sisi kekuatan personel,
Polri menyiagakan 48.368 personel Sabhara dari total sekitar 58 ribu personel nasional. Sementara Korps Brimob
Polri menyiapkan 23.360 personel dari total sekitar 61 ribu personel guna mempercepat respons terhadap kondisi darurat di lapangan.
Sistem rayonisasi antar satuan kewilayahan juga diterapkan untuk mempercepat mobilisasi personel dan peralatan apabila terjadi peningkatan eskalasi kebakaran. Penguatan teknologi turut menjadi perhatian.
Polri mengoperasikan command center di Riau, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan yang telah terhubung dengan sistem Kementerian Kehutanan, BNPB, dan Basarnas untuk memantau perkembangan titik panas secara real time.
Pemanfaatan CCTV dan drone produksi dalam negeri juga terus dikembangkan guna mendukung pemantauan wilayah rawan kebakaran.
Johnny menegaskan, keselamatan personel menjadi prioritas dalam setiap operasi penanggulangan karhutla. Seluruh personel yang bertugas dipastikan dilengkapi baju tahan api, sepatu tahan api, penutup kepala, masker, hingga peralatan pemadaman bergerak.