Jakarta (buseronline.com) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memperkuat pendidikan dan kampanye antikorupsi melalui pendekatan komunikasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan media digital. Dilansir dari laman KPK, upaya tersebut dilakukan melalui Webinar Pariwara Antikorupsi 2026 Seri 3 bertajuk "Membuat Kampanye Antikorupsi yang FYP dan Berdampak".
Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, mengatakan Pariwara Antikorupsi merupakan kampanye serentak yang melibatkan pemerintah daerah untuk menyampaikan pesan-pesan antikorupsi melalui berbagai kanal komunikasi. Tema kampanye disusun berdasarkan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK sehingga sesuai dengan tantangan integritas di masing-masing daerah.
"Pariwara Antikorupsi tidak hanya menjadi sarana penyebarluasan pesan integritas, tetapi juga wadah apresiasi atas berbagai inovasi kampanye yang dilakukan pemerintah daerah," kata Amir saat membuka webinar yang disiarkan melalui kanal YouTube KPK, Kamis.
Dalam webinar tersebut, Analis Madya Kedeputian Koordinasi dan Supervisi Wilayah KPK, Irawati, menegaskan bahwa strategi komunikasi antikorupsi harus disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah. Menurutnya, perbedaan budaya, tantangan, dan kondisi masyarakat membuat pendekatan komunikasi tidak bisa disamaratakan.
Ia menjelaskan, kampanye antikorupsi perlu diawali dengan pemetaan persoalan serta identifikasi kelompok sasaran agar pesan yang disampaikan lebih efektif. Meski tema kampanye dapat sama, seperti pencegahan gratifikasi, suap, atau penyalahgunaan kewenangan, penyampaiannya harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.
Irawati juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan kearifan lokal sebagai media komunikasi. Seni tari, musik, bahasa daerah, hingga tradisi masyarakat dinilai mampu menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan integritas secara lebih dekat dan mudah dipahami.
Menurutnya, keberhasilan kampanye tidak diukur dari banyaknya konten yang diproduksi, melainkan dari sejauh mana masyarakat memahami pesan antikorupsi dan terdorong menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Founder dan Creative Director Hecticholic, Isol, menilai kreativitas menjadi kunci agar kampanye antikorupsi mampu menarik perhatian masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menyarankan agar isu-isu yang sedang menjadi perhatian publik dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk menyampaikan pesan antikorupsi tanpa mengurangi substansi.
"Konten yang baik tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga harus memiliki nilai. Ketika audiens mendapatkan manfaat, memahami pesan, dan merasa terhubung dengan konten tersebut, kepercayaan akan terbangun dengan sendirinya," ujar Isol.
Melalui perpaduan kreativitas, pemanfaatan kearifan lokal, dan penguatan substansi pesan, KPK berharap kampanye antikorupsi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas sekaligus membangun budaya integritas. Keberhasilan kampanye, menurut KPK, pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana pesan antikorupsi dipahami, diingat, dan diwujudkan dalam tindakan nyata oleh masyarakat. (R)