Bandung (buseronline.com) - Neraca perdagangan Provinsi Jawa Barat mencatat surplus sebesar USD 11,31 miliar selama periode Januari hingga Mei 2026. Surplus tersebut didorong oleh kinerja ekspor yang tetap tumbuh di tengah penurunan impor.
Dilansir dari laman Jabarprov, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)
Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan nilai ekspor
Jawa Barat selama Januari-Mei 2026 mencapai USD 15,97 miliar atau meningkat 3,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
"Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas mencapai USD 15,87 miliar atau naik 3,85 persen. Sementara ekspor migas tercatat USD 100,27 juta atau turun 14,78 persen," ujar Margaretha dalam Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat, Rabu.
Pada Mei 2026, nilai ekspor
Jawa Barat mencapai USD 3,40 miliar atau naik 2,10 persen dibandingkan Mei tahun lalu. Ekspor nonmigas juga meningkat menjadi USD 3,37 miliar atau tumbuh 2,21 persen secara tahunan.
Dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar selama Januari-Mei 2026, golongan mesin dan peralatan mekanis mencatat kenaikan tertinggi sebesar USD 296,93 juta atau 25,27 persen. Sebaliknya, golongan karet dan barang dari karet mengalami penurunan terbesar, yakni USD 94,41 juta atau 14,64 persen.
Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor nonmigas
Jawa Barat dengan nilai USD 2,63 miliar. Selanjutnya Filipina sebesar USD 1,47 miliar dan Jepang USD 1,15 miliar. Ketiga negara tersebut menyumbang 33,08 persen dari total ekspor nonmigas
Jawa Barat.
Sementara itu, ekspor ke kawasan ASEAN mencapai USD 4,37 miliar dan ke kawasan Amerika serta Eropa sebesar USD 5,96 miliar. Secara sektoral, ekspor dari sektor pertanian meningkat 3,11 persen dan industri pengolahan naik 3,85 persen.
Namun, sektor pertambangan dan migas masing-masing mengalami penurunan sebesar 8,84 persen dan 14,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, nilai impor Jawa Barat selama Januari-Mei 2026 tercatat sebesar USD 4,66 miliar atau turun 7,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Impor nonmigas mencapai USD 4,39 miliar atau naik 1,07 persen, sedangkan impor migas turun tajam 60,48 persen menjadi USD 262,21 juta.
Pada Mei 2026, nilai impor mencapai USD 980 juta atau turun 4,94 persen dibandingkan Mei 2025. Meski demikian, impor nonmigas pada bulan tersebut meningkat 7,38 persen menjadi USD 950 juta.
Dari kelompok komoditas impor nonmigas, penurunan terbesar terjadi pada golongan kendaraan dan bagiannya yang turun USD 145,14 juta atau 42,40 persen.
Sementara itu, golongan mesin dan perlengkapan elektronik mencatat peningkatan terbesar sebesar USD 108,64 juta atau 16,32 persen.
Margaretha menambahkan, Tiongkok masih menjadi negara pemasok impor nonmigas terbesar bagi
Jawa Barat dengan nilai USD 1,82 miliar atau berkontribusi 41,47 persen terhadap total impor nonmigas. Posisi berikutnya ditempati Korea Selatan dengan nilai USD 527,67 juta dan Jepang sebesar USD 518,81 juta.
Berdasarkan golongan penggunaan, impor barang konsumsi, bahan baku atau penolong, serta barang modal selama Januari-Mei 2026 masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,37 persen, 6,33 persen, dan 13,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (R)