Jakarta (buseronline.com) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Densus 88 Antiteror Polri memperkuat kolaborasi dalam upaya pencegahan radikalisme di ruang digital melalui pendekatan perlindungan anak, literasi digital, serta penguatan ketahanan masyarakat.
Dilansir dari laman Humas Polri, penguatan sinergi tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku berjudul "Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital" yang digelar pada Rabu di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah, aparat keamanan, akademisi, psikolog, serta pakar teknologi informasi.
Kepala
BNPT, Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono menegaskan bahwa ketahanan masyarakat di era digital hanya dapat dibangun melalui keterlibatan seluruh elemen bangsa.
"Pembangunan ketahanan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan seluruh elemen bangsa memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda," ujarnya.
Ia menekankan bahwa upaya pencegahan perlu diperkuat melalui pendidikan, literasi digital, dan deteksi dini berbasis komunitas agar masyarakat mampu mengenali potensi ancaman sejak dini.
"Pencegahan yang efektif tumbuh dari lingkungan terdekat masyarakat. Karena itu, penguatan keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang sosial menjadi fondasi penting," tambahnya.
Menurut
BNPT, strategi tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 yang menitikberatkan pada kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi sebagai upaya lintas sektor.
Sementara itu, Irjen Pol Sentot Prasetyo menegaskan pentingnya perlindungan anak di tengah pesatnya perkembangan ruang digital yang membawa tantangan baru.
"Anak perlu dipahami sebagai pihak yang harus dilindungi dan diperkuat ketahanannya. Literasi digital, lingkungan sosial yang sehat, dan keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan," ujarnya.