Jakarta (buseronline.com) - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menginstruksikan penurunan suku bunga program Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar hingga di bawah 9 persen. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meringankan beban pembiayaan masyarakat prasejahtera dan pelaku usaha mikro.
Instruksi itu disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan sambutan di Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta. Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan langkah politik pemerintah untuk menciptakan keadilan ekonomi bagi masyarakat kecil.
"Ini keputusan politik, saya sudah ambil bahwa bunga untuk Permodalan Nasional Madani, untuk kredit keluarga prasejahtera, dari 24 persen, kita turunkan harus di bawah 10 persen, harus di bawah 9 persen," ujar Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo menilai selama ini terjadi ketimpangan akses pembiayaan, di mana pelaku usaha kecil justru dibebani bunga kredit lebih tinggi dibanding pengusaha besar yang memperoleh pinjaman bank dengan bunga lebih rendah.
"Bayangkan, orang kaya dikasih 9 persen, orang miskin 24 persen. Ini negara Pancasila, saya tidak paham," kata Presiden.
Menurut Presiden, pemerintah akan terus mengevaluasi sistem ekonomi nasional agar lebih berpihak kepada rakyat kecil sesuai amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Selain penurunan bunga kredit, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya reformasi regulasi dan percepatan perizinan usaha. Presiden meminta seluruh kementerian dan lembaga memperbaiki sistem birokrasi agar investasi dan kegiatan usaha tidak lagi terhambat proses perizinan yang panjang.
"Cari jalan untuk perbaiki sistem, kurangi ketidakefisiensi, permudah perizinan, jangan persulit," tegas Presiden Prabowo.
Presiden juga meminta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membentuk satuan tugas khusus deregulasi guna menyederhanakan aturan yang dinilai tumpang tindih.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan mendukung pengusaha yang menjalankan usaha secara benar agar mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat perekonomian nasional.
Menutup sambutannya, Presiden menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki kemampuan keuangan yang cukup untuk menjalankan program-program pro-rakyat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (DKI1)