Jakarta (buseronline.com) - PT Pertamina (Persero) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menandatangani Nota Kesepahaman sebagai langkah strategis dalam pengembangan ekosistem energi berkelanjutan berbasis limbah domestik.
Dilansir dari laman
Pertamina, melalui kerja sama ini, minyak jelantah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan diolah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui pemanfaatan limbah domestik berbasis ekonomi sirkular.
Kepala
Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program makan bergizi terbesar di dunia yang melayani sekitar 61,99 juta penerima manfaat.
"Program ini bukan hanya soal makan bergizi gratis, tetapi merupakan investasi besar untuk masa depan bangsa, membangun generasi unggul, memperkuat ekonomi rakyat, dan menciptakan Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera," ujar Dadan.
Direktur Utama
Pertamina, Simon Aloysius Mantiri menyampaikan bahwa sinergi antara
Pertamina dan BGN merupakan pertemuan dua mandat strategis bangsa, yakni pangan dan energi.
"Sebagaimana tertuang dalam Misi ke-2 Asta Cita, kita didorong untuk membangun kemandirian di sektor pangan dan energi secara simultan. Hari ini, kita melihat bagaimana dua sektor tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem yang terintegrasi," kata Simon dalam kegiatan penandatanganan kerja sama di Jakarta, Kamis.
Menurut Simon, minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah dan menjadi sumber pencemaran lingkungan kini dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi tinggi.
"Dari puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, akan terbentuk ekosistem pengumpulan Used Cooking Oil (UCO). Kita jadikan limbah sebagai sumber daya dan masalah sebagai solusi. Inilah esensi dari circular economy," ujarnya.
Implementasi pengumpulan minyak jelantah akan dijalankan oleh
Pertamina Patra Niaga melalui mesin pengumpulan UCollect. Minyak jelantah yang terkumpul nantinya akan digunakan sebagai bahan baku produksi SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan biogasoline.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat portofolio bisnis rendah karbon.