Cilacap (buseronline.com) - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan groundbreaking proyek hilirisasi nasional tahap II di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah. Agenda ini menjadi bagian dari percepatan transformasi industri nasional melalui penguatan hilirisasi di berbagai sektor strategis.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan doa bersama serta pemaparan rencana pengembangan proyek melalui video presentasi. Kegiatan ini menandai dimulainya rangkaian pembangunan 13 proyek strategis hilirisasi dengan total nilai investasi sekitar Rp116 triliun.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci utama untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Ia menyebut hilirisasi sebagai jalan menuju kebangkitan ekonomi bangsa.
"Groundbreaking hilirisasi tahap kedua ini mencakup 13 proyek strategis senilai kurang lebih 116 triliun rupiah, meliputi 5 proyek di sektor energi, 5 proyek di sektor mineral, dan 3 proyek di sektor pertanian," ujar Prabowo.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proyek ini merupakan kelanjutan dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri nasional berbasis pengolahan sumber daya alam.
Menurut Rosan, hilirisasi bukan hanya soal investasi, tetapi juga transformasi ekonomi jangka panjang yang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.
Adapun 13 proyek tersebut mencakup pembangunan kilang gasoline di Dumai dan Cilacap, fasilitas penyimpanan BBM di berbagai wilayah, pengembangan DME di Sumatera Selatan, industri baja di Sulawesi Tengah dan Banten, hingga hilirisasi komoditas pertanian seperti sawit, pala, dan kelapa di sejumlah daerah.
Dengan cakupan lintas sektor energi, mineral, dan pertanian, program hilirisasi tahap II ini diharapkan menjadi penggerak utama industrialisasi nasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. (DKI1)