Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia mempercepat hilirisasi sektor perkebunan sebagai strategi besar dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas domestik di tengah tekanan global dan ketergantungan pada energi fosil.
Langkah ini menandai perubahan peran subsektor perkebunan, dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi fondasi penting dalam rantai pasok energi baru berbasis sumber daya lokal.
Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan industri hilir dan pengurangan impor energi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan perkebunan harus diarahkan pada pengolahan bernilai tambah tinggi.
"Hasil perkebunan harus naik kelas. Tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi, termasuk bioenergi. Ini bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional," ujar Amran dalam keterangannya, Jumat.
Sejumlah komoditas strategis seperti kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong kini diposisikan sebagai tulang punggung pengembangan biofuel, baik biodiesel maupun bioetanol.
Pemanfaatan bahan baku dalam negeri dinilai krusial untuk memperkuat bauran energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Di sektor hulu, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi dan produktivitas melalui percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, serta pengawasan perizinan dan sertifikasi keberlanjutan seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Untuk komoditas tebu, pemerintah juga mempercepat target swasembada gula sekaligus mendukung produksi bioetanol melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam hingga 200.000 hektare secara nasional.
Selain itu, pembenahan data dan sistem informasi perkebunan menjadi prioritas guna memastikan perencanaan yang lebih akurat dan berkelanjutan dalam mendukung pasokan bahan baku industri bioenergi.
Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil menilai hilirisasi memiliki dampak luas bagi perekonomian nasional. "Hilirisasi perkebunan akan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri berbasis komoditas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun. Ini menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi nasional," kata Ali.
Ia menambahkan, pengembangan komoditas ke depan tidak hanya difokuskan pada kebutuhan pangan dan industri konvensional, tetapi juga diarahkan sebagai sumber bahan baku energi terbarukan yang prospektif.
Dengan integrasi dari hulu hingga hilir, pemerintah optimistis hilirisasi perkebunan dapat menjadi fondasi strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan pangan secara bersamaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (R)
Andi Amran Sulaiman.