Jakarta (buseronline.com) - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima sambungan telepon dari Perdana Menteri Australia Anthony Albanese yang membahas kerja sama ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Australia.
Dalam komunikasi tersebut, PM Albanese menyampaikan apresiasi atas langkah Indonesia yang mulai mengekspor pupuk urea sebesar 250 ribu ton pada tahap awal. Apresiasi itu disampaikan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kerja sama bilateral di sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan, ekspor tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
"PM Albanese menyampaikan apresiasi atas persetujuan Bapak Presiden terkait ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap pertama," ujar Teddy dalam keterangan resminya.
Selain Australia, Indonesia juga tengah menjajaki ekspor pupuk ke sejumlah negara lain, antara lain India, Filipina, Thailand, dan Brasil. Total komitmen ekspor yang disiapkan pemerintah mencapai sekitar 1 juta ton.
Meski meningkatkan ekspor, pemerintah memastikan kebijakan tersebut tetap dilakukan secara terukur dengan menjaga ketersediaan pupuk di dalam negeri. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi urea nasional saat ini mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki surplus produksi yang cukup untuk mendukung ekspor tanpa mengganggu kebutuhan petani dalam negeri.
Pemerintah berharap langkah ini tidak hanya memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, tetapi juga memperkuat peran Indonesia di pasar global, khususnya dalam sektor pupuk dan pertanian. (DKI1)