Jakarta (buseronline.com) - Sektor pertanian Indonesia menunjukkan kinerja impresif dengan tren pertumbuhan yang semakin kuat dan menyeluruh. Peningkatan ini tercermin dari lonjakan ekspor, penurunan impor, hingga membaiknya kesejahteraan petani.
Dilansir dari laman Kementan, berdasarkan data terbaru, nilai ekspor sektor pertanian, baik produk segar maupun olahan, meningkat sebesar Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen. Sementara itu, impor mengalami penurunan signifikan sebesar Rp41,68 triliun atau turun 9,66 persen.
Kondisi ini menunjukkan daya saing produk pertanian Indonesia yang semakin kuat di pasar global sekaligus menekan ketergantungan pada produk luar negeri.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian tersebut merupakan hasil dari strategi terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri," ujar Amran, Jumat.
Kinerja positif ini turut mendorong peningkatan pendapatan sektor pertanian yang mencapai Rp437,25 triliun. Kenaikan tersebut berasal dari produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, serta kontribusi ekspor.
Selain itu, efisiensi devisa dari penurunan impor tercatat mencapai Rp34 triliun. Dari sisi produksi, Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada komoditas beras.
Produksi beras meningkat 4,07 juta ton atau tumbuh 13,29 persen, yang mengantarkan Indonesia menuju swasembada pangan dalam waktu singkat serta memperkuat posisinya di kawasan ASEAN.
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, yakni 4,8 juta ton pada April 2026 dan diproyeksikan menembus 5 juta ton pada akhir bulan. Cadangan ini menjadi penopang penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
"Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal rasa aman bagi rakyat Indonesia. Kita pastikan stok cukup, harga stabil, dan petani tetap untung," tegas Amran.
Kesejahteraan petani ikut mengalami peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, yang mencerminkan meningkatnya daya beli dan pendapatan petani.
Di sisi makroekonomi, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,74 persen pada 2025, tertinggi dalam 25 tahun terakhir, menjadikannya sebagai salah satu penopang utama ekonomi nasional.